Jumat, 04 September 2015

Sejarah Suku Pakpak & Adat istiadat

Nintura berasal dari kata manusia raksasa (NTUARA),Similang ilang berasal dari india..
Sini haji, ,berasal dari bangsa arap memasuki wilayah pulau jawa yg di sebut dengan wali songo memasuki barus terus turun ke wilayah ulayat pakpak.

  Diceritakan dalam sejarah, bahwa asal-usul Suku Pakpak adalah dari India Selatan yaitu dari India Tondal yang kemudian menetap di Muara Tapus dekat Kota Barus lalu berkembang di tanah Pakpak dan kemudian menjadi suku Pakpak. Pada dasarnya nenek moyang suku Pakpak ini sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal mereka, namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dari marga aslinya.
Suku Pakpak tersebar di beberapa daerah. Secara administratif masyarakat Pakpak tersebar di dua Provinsi dan beberapa Kabupaten, yang dikenal dengan sebutan Suak atau Lebbuh. Wilayah Pakpak terbagi menjadi 5 suak yaitu : Suak Simsim, Suak Kelasen, Suak Keppas, Suak Pegagan dan Suak Boang. Suak Simsim terletak di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Suak Keppas dan Suak Pegagan terletak di wilayah Kabupaten Dairi, Suak Kelasen menetap di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah khususnya Kecamatan Barus, dan Suak Boang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tidak semua orang Pakpak orang Pakpak berdiam di tanah Pakpak, namun mereka juga berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian tinggal di tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak. Mereka menjadi "Situkak Rube", Sipungkah Kuta, dan Sukut Nitalun di tanah Pakpak. Sebagian lagi pergi merantau ke daerah lain, membentuk komunitas baru. Mereka mengetahui bahwa asalnya adalah dari daerah Pakpak dan mengaku bahwa Pakpak adalah sukunya, namun sudah menjadi marga di suku lain.
Menurut cerita, nenek moyang dari Suku Pakpak adalah si Kada dan si Lona dari India Selatan. Mereka pergi merantau meninggalkan kampungnya dan terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke tanah Pakpak. Dari pernikahan mereka mempunyai seorang anak yang bernama HYANG. Itulah sebabnya nama Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Suku Pakpak. Hyang pun dewasa dan kemudian menikah dengan putri Raja Barus. Dari pernikahan mereka, lahir 7 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Adapun nama dari anak Hyang dan putri raja Barus adalah :
1. Si Haji;
2. Perbaju Bigo;
3. Ranggar Jodi;
4. Mpu Bada;
5. Raja Pako;
6. Bata;
7. Sanggir;
8. Suari (anak perempuan).
Pada urutan ke empat terdapat nama Mpu Bada, Mpu Bada adalah yang terbesar di antara saudara-saudaranya yang lain, bahkan dari pihak suku Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah keturunan dari Parna dari Marga Sigalingging. Bagaimana bisa ya...??? Sedangkah pada sejarahnya sudah jelas-jelas bahwa Mpu Bada adalah anak keempat dari Hyang.
Si anak Sulung, yaitu Si Haji mempunyai kerajaan di Banua Harhar, yang saat ini dikenal dengan Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube Kabupaten Pakpak Bharat Turunanya Padang,Berutu,Solin. Perbaju Bigo pergi ke arah timur dan membentuk kerajaan SIMBELLO di Silaan, yang saat ini dikenal dengan Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu. Ranggar Jodi pergi ke arah utara dan membentuk kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama kerajaan JODI BUAH LEUH dan NANTAMPUK MAS, saat ini masuk ke dalam Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe. Mpu Bada pergi ke arah barat melintasi Lae Cinendang dan tinggal di Mpung Simbentar Baju turunanya Manik,Beringin,Tendang,Banurea,Gajah,Berasa. Raja Pako pergi ke arah timur laut membentuk Kerajaan Siraja Pako dan bermukim di Sicike-cike turunannya si pitu marga Ujung,Angkat,Bintang,Capah,Sinamo,Kudadiri,Gajah manik. Bata pergi ke arah Selatan dan menikah, kemudian hanya mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Putra keturunan Tuan Nahkoda Raja. Dari pernikahan ini menurunkan marga Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Turuten, Pinayungen dan Anakampun. Sanggir pergi ke arah Selatan tapi lebih jauh dari Bata dan membentuk kerajaan di sana. dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka dan Mungkur. Sedangkah yang perempuan yaitu Suari menikah dengan Putra Raja Barus dan mempunyai anak, yaitu : Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boangmanalu dan Bancin.

PERSEBARAN ORANG PAKPAK

  Wilayah suku Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yaitu : (Berutu dan Nurani, 2007:3-4)
Pakpak Simsim, yaitu orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Terdiri dari marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boangmanalu, Cibro, Sitakar dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
Pakpak Keppas, yaitu orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha dan lain-lain. Ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Dairi.
Pakpak Pegagan, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan, antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Sikettang dan lain-lain, termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir Kabupaten Dairi.
Pakpak Kelasen, yaitu orang Pakpak yang berasal dari dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anakampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (Kabupaten Tapanuli Tengah).
Pakpak Boang, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang, antara lain marga Saraan, Sambo, Penarik dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Meskipun para Antropolog memasukkan suku Pakpak ke dalam salah satu Subetnis Batak, sebagaimana suku Mandailing, Karo, Toba, dan Simalungun. Namun, suku Pakpak mempunyai versi tersendiri tentang asal-usul dan jati dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16) :
Keberadaan orang-orang Simbello, Simbacang,Siratak dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak;
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru,Simorgarorgar,Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang dan Purbaji.

Dalam Lapihen/Laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
Persebaran orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga yang ada di Suku Pakpak yang mengandung ke India-an seperti marga Lingga, Maha dan Maharaja, boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut.

ADAT PAKPAK

Adat pakpak sifat nya dua macam (1):Ngkerja bagak(2
)Ngkerja njahat
1:Ngkerja Bagak :kerja /pesta perkawinan dan adat nya terbagi 7 macam
yaitu:
*Merkata sipitu
*Merbayo
*Sohom-sohom
*Menoh kela
*Memelat soki
*Menada bunga rambu rambu
*Maing pertabar(pesakat mabruna kalon
2:Ngkerja Njahat:yg di sebut adad tentang akhir kematian adad nya ada 3 macam yaitu: 
*Males bulung simbernaik
*Males bulung sampula
*Males bulung ni buluh
dengan tingkat kemampuan dan usia yg meningggal dunia yg di namakan bahasa ada yaitu
1.Tingkat membayar lemba berati yg meninggal sudah scayur ntua
2.Bura bura cipako berati yg meninggal sudah berumah tangga
3.Bura bura koning berati yg meninggal di bawah umur org dewasa.

MENGENAI PELAKSANAN ADAT

Kata kunci dalam bahasa pakpak
*Mengido sodip mendahi puang
*Mengido gegoh mendahi berru
*Mengido pengurupi mendahi dedahen dengan se beltek
*Memerre serbeb mendahi pertua/orang tua

ADAT PERKAWINAN/MAHAN UTANG

  Memereken simpihir pihir berupa, mas,perak,kepeng secukupnya tapi oles nya harus lima
-Oles inang berru -oles culkkai -oles penatum -oles lemlem nakan-oles peraleng.
inilah merupakan kewajipan dari pihak laki laki yg harus di berikan ke pihak perempuan/si per brru/puang.
setelah pihak perempuan menerima kewajiban dari pihak laki laki maka pihak perempuan wajip pula memberikan yaitu:
-Nakan penjalon -penjukuti mersendihi - belagen 3 - kembal 12 - selampis baka 24
nama/glar, belagen peramak, belagen dabuhen/tabir,dinding ulu/tutup takal.
ramuan pelengkap nya yg mempunyai makna tersendiri di tambah dengan .nditak, dohomen pinahpah,lemang/ tinembu,galuh tasak, tebbu merlepak dengan beras simperbean.

ADAT NJHAHAT(KEPATEN)

  Yang wajib dihadapi puang yaitu:
puang bona,puang pengamaki,puang lebbe,
puang bial disebut sampe ke pembayaran lemba.
berikut nya di berikan oles 3 lembar nama nya oles sintaken,oles tatakenken,oles baubau, di tambah simpihir pihir/mas.kepeng manoh manoh/kenagen yg sipat nya misal nya kebun, sawah atau seluas tanah dan pokok tanaman durian petai,kelapa ,dll.
sipuang rasa berkewajipan memberi pihak berru yaitu:
memereken nakan pengambat,memereken nakan persirangen,memereken nakan ariari tendi ket ieket jari kikambal kambirang pake bengkuang/bahan untuk baka.
yg bermakna supaya mpihir mo tendi ket mambal sindanggel, dan di berikan beras pengkicik simpihir tendi nakan tsb tidak terlepas dari merangkap kambing,ayam.

MENGENAI BUDAYA PAKPAK

  Budaya pakpak terbagi 3 macam yaitu
(A)Budaya marga (B) Budaya lebbuh (C) Budaya jabu
A)*Budaya marga disebut pelaksanaan nya mendangger uruk yg harus menghadirkan perisang isang,pertulan tengah,damper ekur ekur,puang,bru,sicibal baleng.
di promotori oleh sipantes ndiase,si gedang radumen deket si baso.
hal tersebut dinamakan pesta budaya sulang silima (marga tertentu)
B)*Budaya lebbuh serupa diatas tapi sifat nya satu lebuh yg di sebut sada kuta
C)*budaya jabu/perjabujabu serupadiatas sifat nya perorangan atau keluarga.
SECARA UMUM A.B.C. masing masing budaya seni yg sama.
Odong -dong,nagen atau nyanyian.tangis milangi dan mempunyai oning oningen misal nya
genderang,gung,klondang,sordam,kecapi,lobat,taratoa,sagasaga,genggong,kettuk.

ADAT STUKTUR SOSIAL PAKPAK( FALSAFAH)

Adat dan struktur sosial kekerabatan Suku Pakpak yang disebut Sulang Silima, terdiri dari lima unsur yaitu
Perisang-isang (Sinina pertama: anak sulung, kerabat semarga keturunan atau generasi tertua)
Pertulan-tengah (Sinina kedua: anak tengah, kerabat semarga keturunan atau generasi yang ditengah)
Perekur-ekur (Sinina bungsu: anak bungsu, kerabat semarga keturunan terbungsu)
Perpunca Ndiadep / Puang Kula-kula,pengituai,pemerintah(kerabat pemberi gadis)
Perbetekken / Berru,Sukut nitulan (kerabat penerima gadis)

MAKANAN DALAM KHAS BUDAYA PAKPAK

Peleng,Ginaruncor,Nditak,Tinembu,Lemang,Pianahpah ,Ginustung, Nakan pagit /Nakan simalum malum, nakan 
serbeb,nakan luah,nakan pengambat.nakan ari-ari tendi,memere ndirabaren.

MEJAN SUKU PAKPAK

  Mejan merupakan peninggalan purbakala yang ditemukan di Tanah Pakpak berupa patung-patung yang diukir dari batu. Patung-patung ini berbentuk orang mengendarai binatang seperti: gajah, kuda, atau harimau. Mejan adalah suatu simbol kebanggaan dan kemashyuran bagi masyarakat Pakpak, karena diyakini bahwa patung-patung tersebut mengandung unsur mistik tersendiri. Selain mengandung nilai budaya yang tinggi, mejan ini juga merupakan lambang kebesaran marga Pakpak atau masyarakat Pakpak.

Secara khusus masyarakat Pakpak memaknai mejan sebagai simbol kepahlawanan. Pemahat yang membuat mejan ini adalah para pertaki dan mereka inilah pemilik mejan sekaligus pande tukang. Pembuatan mejan ini dahulu memakan waktu yang cukup lama disertai dengan mantra-mantra untuk mengisinya dengan roh yang biasa disebut masyarakat Pakpak dengan nangguru yang mengisi batu mejan. Itulah sebabnya mejan diyakini memiliki kekuatan gaib dan para pertaki inilah yang memiliki kualifikasi membuatnya.  
    
Warga yang memiliki mejan dahulu kala merupakan orang berada, karena dalam pembuatannya membutuhkan biaya yang lumayan besar dan memakan waktu lama juga. Selain itu, untuk pembuatan mejan ini tidak sembarangan, karena dalam pembuatannya harus mengikuti banyak ritual sebagai syarat-syarat yang harus dipenuhi agar mejan tersebut nantinya memiliki kekuatan mistik. Setelah rampung patung ini ditempatkan di  gerbang kampung sebagai  penangkal bala sekaligus penanda kekuasaan marga selaku pemangku kuta, yaitu pendiri kampung.

Pada zaman dulu, mejan berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang akan masuk ke suatu daerah atau kampung. Konon, mejan dapat bersuara pada zaman dulu bila musuh datang memasuki kampung atau bila suatu kampung akan mengalami suatu kejadian. Suara ini diyakini berasal dari nangguru yang berdiam di dalam batu mejan tersebut. Nangguru yang tinggal di batu Mejan  dipercaya adalah roh nenek moyang yang dipanggil melalui suatu ritual. Di situlah letak sifat mistik daripada mejan yang telah disinggung sebelumnya (berbagai sumber).

1.Pengaruh  Tamil dalam Masyarakat Pakpak

  Patung Mejan yang masih ada ditemukan sekarang ini diperkirakan berumur 400–900 tahun. Menurut hasil penelitian para arkeolog yang pernah melakukan riset di daerah Pakpak Bharat, keberadaan mejan tidak terlepas dari pengaruh Hindu yang juga identik dengan budaya patungnya. Bentuk patung seperti gajah dan angsa adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari India. Bentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu pertulenan (penyimpanan abu jenazah) sebenarnya tidak lain adalah hasil interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai simbol kendaraan arwah (Soedewo, 2008:1-10).

        
Masuknya unsur-unsur budaya Hindu - Tamil ke dalam budaya Pakpak dimungkinkan oleh adanya kontak kedua budaya tersebut. Tempat yang paling memungkinkan terjadinya kontak itu di masa lalu adalah Barus, yang bukti-bukti sejarah maupun arkeologisnya menunjukkan tempat ini pernah berjaya sebagai bandar internasional. Para pedagang Tamil dari India mendatangi Barus untuk membeli kapur barus yang dihasilkan di daerah Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tempat tinggal orang-orang Pakpak (Basarsyah, 2009:1-3; Soedewo, 2008:1-10).

Bukti kehadiran orang-orang Tamil dari India adalah Prasasti Lobu Tua, yang ditemukan di Barus. Prasasti berangka tahun 1010 Saka (1088 M) ini dikeluarkan oleh suatu serikat dagang yang bernama Ayyāvole 500 (Perkumpulan 500) (Sastri,1932:326 dan Subbarayalu,2002:24). Prasasti dengan tulisan Tamil ini ditemukan oleh pejabat Belanda GJJ Deutz tahun 1872. Setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931, menurutnya perkumpulan dagang etnik Tamil tersebut memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan dan ketentuan lainnya. Anggotanya terdiri dari berbagai aliran Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Berdasarkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret bersama tim dari Ecole Francaise d Extreme-Orient (EFEO) membuktikan bahwa pada abad ke-8 sampai ke-12 di Lobu Tua, Barus telah terdapat perkampungan multi-etnik terdiri dari etnik Tamil, Cina, Arab dan sebagainya (Kumar, 2011:1).

Barus, yang merupakan bandar niaga internasional di masa lalu tidak jauh dari Kelasan, yang berada di pegunungan Bukit Barisan dan dulu menjadi persinggahan para pedagang yang datang dari Kailasem di pegunungan Himalaya, India. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa penduduk Kelasan yang sekarang dikenal sebagai salah satu suak di Tanah Pakpak adalah keturunan dari hasil percampuran mereka. Orang-orang Tamil ini juga masuk terutama ke daerah Simsim dan Boang. Inilah yang menyebabkan adanya anggapan  bahwa orang Pakpak berasal dari India. Apalagi di lapihen laklak Pakpak (buku laklak dari kulit kayu) ada tertulis "Enmo tambo si Sewu si roh Indiha nari arap-arapen kayu mbellen soh mi Barus" (inilah tambo si Sewu yang datang dari India dengan memakai rakit kayu besar sampai ke Barus).

2.Keberadaan Mejan Kini

  Mejan tetap masih ada ditemukan di wilayah Tanah Pakpak meskipun sudah lumayan banyak juga yang hilang dicuri orang. Setidaknya di daerah seperti Tungtung Batu,  Berampu, Bangun, Tinada, Kerajaan, Kuta Nangka, Kuta Deleng, Kuta Kersik, Penanggalan, Lebuh Simangun, Lebuh Nusa, Ronding, Sibande, dan Kaban Tengah patung ini masih ada sampai sekarang.Di luar Dairi dan Pakpak Bharat ada juga  di daerah Parlilitan, Humbang Hasundutan (berbagai sumber).

Menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pakpak Bharat bahwa mejan tersebut ada di daerah sebagai berikut: Mejan Berutu Kuta Ujung dan Mejan Kesogihen di Pardomuan. Mejan Berutu Ulu Merah  dan Mejan Berutu Tandak  di Ulu Merah,  Mejan Berutu Kuta Kersik dan Mejan Marga Sinamo di Silimakuta, Mejan Bancin Penanggalan Jehe  di Boang, Mejan Boangmanalu  di Boangmanalu, Mejan Manik Arituntun dan Mejan Manik Aornakan Tao di Aornakan, Mejan Manik Lagan dan Mejan Manik Gaman serta Mejan Gajah  di Simerpara, Mejan Manik Kecupak di Kecupak I, Mejan Sanggar dan Mejan Pandua di Pangindar, Mejan Marga Sinamo Siantar Julu di Perongil, Mejan Padang di Jambu,Mejan Padang Kuta Babo di Kuta Babo, Mejan Solin Lae Meang di Mahala, Mejan Solin Tamba di Majanggut II, Mejan Solin Kuta Delleng dan Mejan Tinendung di Sukarame.
             
Mejan, sebagaimana telah dikemukakan di atas, adalah kekayaan budaya Pakpak, sehingga perlu dijaga dan dipelihara dari usaha-usaha pencurian dan perusakan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menjaga dan memelihara mejan-mejan yang masih tersisa. ***


Njuahjuah

5 komentar:

  1. Oh, bagi nola kpeken, jadi lot ngo buku laklak tentang sejarah pakpak ibettoh ke silih brutu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lot lih janah mbue deng i asli laklak kayu deng. Imo tepatna i desa singabure pakpak bharat marga solin kicekep.

      Hapus
  2. Tapi buku laklak sinisinggabur i cuma brisi tabas / mantra nalako mahan tambar dkkt ilmu kebatinan ngo nina i silih,

    bukan tentang sejarah suku pakpak umumnya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin sini kuso ndene idi lain kalakna kerna oda sadakalak sidasa buku idi, lot ngo sejarahna itulis ibukuna idi peryataan singkatna ENMO TAMBO SI SEWU INDIHANA NARI ARAP-ARAPEN KAYU MBELEN SOH MI BARUS(Ini lah tambo si sewu datang dari india menggunakan Rakit terdampar di barus) imo ia penulisen singkatna silih.

      Hapus
  3. Nama peninggalannya mana kak
    Tlong dibuatkan lha kak/bang

    BalasHapus