Nintura berasal dari kata manusia raksasa (NTUARA),Similang
ilang berasal dari india..
PERSEBARAN ORANG PAKPAK
Wilayah suku Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yaitu : (Berutu dan Nurani, 2007:3-4)
Kata kunci dalam bahasa pakpak
*Mengido sodip mendahi puang
*Mengido gegoh mendahi berru
*Mengido pengurupi mendahi dedahen dengan se beltek
*Memerre serbeb mendahi pertua/orang tua
Memereken simpihir pihir berupa, mas,perak,kepeng secukupnya tapi oles nya harus lima
-Oles inang berru -oles culkkai -oles penatum -oles lemlem nakan-oles peraleng.
inilah merupakan kewajipan dari pihak laki laki yg harus di berikan ke pihak perempuan/si per brru/puang.
setelah pihak perempuan menerima kewajiban dari pihak laki laki maka pihak perempuan wajip pula memberikan yaitu:
-Nakan penjalon -penjukuti mersendihi - belagen 3 - kembal 12 - selampis baka 24
nama/glar, belagen peramak, belagen dabuhen/tabir,dinding ulu/tutup takal.
ramuan pelengkap nya yg mempunyai makna tersendiri di tambah dengan .nditak, dohomen pinahpah,lemang/ tinembu,galuh tasak, tebbu merlepak dengan beras simperbean.
Yang wajib dihadapi puang yaitu:
puang bona,puang pengamaki,puang lebbe,
puang bial disebut sampe ke pembayaran lemba.
berikut nya di berikan oles 3 lembar nama nya oles sintaken,oles tatakenken,oles baubau, di tambah simpihir pihir/mas.kepeng manoh manoh/kenagen yg sipat nya misal nya kebun, sawah atau seluas tanah dan pokok tanaman durian petai,kelapa ,dll.
sipuang rasa berkewajipan memberi pihak berru yaitu:
memereken nakan pengambat,memereken nakan persirangen,memereken nakan ariari tendi ket ieket jari kikambal kambirang pake bengkuang/bahan untuk baka.
yg bermakna supaya mpihir mo tendi ket mambal sindanggel, dan di berikan beras pengkicik simpihir tendi nakan tsb tidak terlepas dari merangkap kambing,ayam.
Budaya pakpak terbagi 3 macam yaitu
(A)Budaya marga (B) Budaya lebbuh (C) Budaya jabu
Adat dan struktur sosial kekerabatan Suku Pakpak yang disebut Sulang Silima, terdiri dari lima unsur yaitu
Peleng,Ginaruncor,Nditak,Tinembu,Lemang,Pianahpah ,Ginustung, Nakan pagit /Nakan simalum malum, nakan
Sini haji, ,berasal dari bangsa arap memasuki wilayah pulau jawa yg di sebut
dengan wali songo memasuki barus terus turun ke wilayah ulayat pakpak.
Diceritakan dalam sejarah, bahwa asal-usul
Suku Pakpak adalah dari India Selatan yaitu dari India Tondal yang kemudian
menetap di Muara Tapus dekat Kota Barus lalu berkembang di tanah Pakpak dan
kemudian menjadi suku Pakpak. Pada dasarnya nenek moyang suku Pakpak ini sudah
mempunyai marga sejak dari negeri asal mereka, namun kemudian membentuk marga
baru yang tidak jauh berbeda dari marga aslinya.
Suku Pakpak tersebar di beberapa daerah. Secara administratif masyarakat Pakpak tersebar di dua Provinsi dan beberapa Kabupaten, yang dikenal dengan sebutan Suak atau Lebbuh. Wilayah Pakpak terbagi menjadi 5 suak yaitu : Suak Simsim, Suak Kelasen, Suak Keppas, Suak Pegagan dan Suak Boang. Suak Simsim terletak di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Suak Keppas dan Suak Pegagan terletak di wilayah Kabupaten Dairi, Suak Kelasen menetap di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah khususnya Kecamatan Barus, dan Suak Boang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Suku Pakpak tersebar di beberapa daerah. Secara administratif masyarakat Pakpak tersebar di dua Provinsi dan beberapa Kabupaten, yang dikenal dengan sebutan Suak atau Lebbuh. Wilayah Pakpak terbagi menjadi 5 suak yaitu : Suak Simsim, Suak Kelasen, Suak Keppas, Suak Pegagan dan Suak Boang. Suak Simsim terletak di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Suak Keppas dan Suak Pegagan terletak di wilayah Kabupaten Dairi, Suak Kelasen menetap di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah khususnya Kecamatan Barus, dan Suak Boang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tidak
semua orang Pakpak orang Pakpak berdiam di tanah Pakpak, namun mereka juga
berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian
tinggal di tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak. Mereka menjadi "Situkak
Rube", Sipungkah Kuta, dan Sukut Nitalun di tanah Pakpak. Sebagian lagi
pergi merantau ke daerah lain, membentuk komunitas baru. Mereka mengetahui
bahwa asalnya adalah dari daerah Pakpak dan mengaku bahwa Pakpak adalah
sukunya, namun sudah menjadi marga di suku lain.
Menurut
cerita, nenek moyang dari Suku Pakpak adalah si Kada dan si Lona dari India Selatan.
Mereka pergi merantau meninggalkan kampungnya dan terdampar di Pantai Barus dan
terus masuk hingga ke tanah Pakpak. Dari pernikahan mereka mempunyai seorang
anak yang bernama HYANG. Itulah sebabnya nama Hyang adalah nama yang
dikeramatkan di Suku Pakpak. Hyang pun dewasa dan kemudian menikah dengan putri
Raja Barus. Dari pernikahan mereka, lahir 7 orang anak laki-laki dan 1 orang
anak perempuan. Adapun nama dari anak Hyang dan putri raja Barus adalah :
1. Si Haji;
2. Perbaju Bigo;
3. Ranggar Jodi;
4. Mpu Bada;
5. Raja Pako;
6. Bata;
7. Sanggir;
8. Suari (anak perempuan).
1. Si Haji;
2. Perbaju Bigo;
3. Ranggar Jodi;
4. Mpu Bada;
5. Raja Pako;
6. Bata;
7. Sanggir;
8. Suari (anak perempuan).
Pada
urutan ke empat terdapat nama Mpu Bada, Mpu Bada adalah yang terbesar di antara
saudara-saudaranya yang lain, bahkan dari pihak suku Toba pun kadangkala
mengklaim bahwa Mpu Bada adalah keturunan dari Parna dari Marga Sigalingging.
Bagaimana bisa ya...??? Sedangkah pada sejarahnya sudah jelas-jelas bahwa Mpu
Bada adalah anak keempat dari Hyang.
Si anak
Sulung, yaitu Si Haji mempunyai kerajaan di Banua Harhar, yang saat ini dikenal
dengan Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube Kabupaten Pakpak Bharat
Turunanya Padang,Berutu,Solin. Perbaju Bigo pergi ke arah timur dan membentuk
kerajaan SIMBELLO di Silaan, yang saat ini dikenal dengan Kecamatan Sitellu
Tali Urang Julu. Ranggar Jodi pergi ke arah utara dan membentuk kerajaan yang
bertempat di Buku Tinambun dengan nama kerajaan JODI BUAH LEUH dan NANTAMPUK
MAS, saat ini masuk ke dalam Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe. Mpu Bada pergi
ke arah barat melintasi Lae Cinendang dan tinggal di Mpung Simbentar Baju
turunanya Manik,Beringin,Tendang,Banurea,Gajah,Berasa. Raja Pako pergi ke arah
timur laut membentuk Kerajaan Siraja Pako dan bermukim di Sicike-cike
turunannya si pitu marga Ujung,Angkat,Bintang,Capah,Sinamo,Kudadiri,Gajah
manik. Bata pergi ke arah Selatan dan menikah, kemudian hanya mempunyai seorang
anak perempuan yang menikah dengan Putra keturunan Tuan Nahkoda Raja. Dari
pernikahan ini menurunkan marga Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Turuten,
Pinayungen dan Anakampun. Sanggir pergi ke arah Selatan tapi lebih jauh dari
Bata dan membentuk kerajaan di sana. dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka
dan Mungkur. Sedangkah yang perempuan yaitu Suari menikah dengan Putra Raja
Barus dan mempunyai anak, yaitu : Permencuari yang kemudian menurunkan marga
Boangmanalu dan Bancin.
PERSEBARAN ORANG PAKPAK
Wilayah suku Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yaitu : (Berutu dan Nurani, 2007:3-4)
Pakpak
Simsim, yaitu orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah
Simsim. Terdiri dari marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boangmanalu,
Cibro, Sitakar dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik
Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
Pakpak Keppas, yaitu orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha dan lain-lain. Ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Dairi.
Pakpak Pegagan, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan, antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Sikettang dan lain-lain, termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir Kabupaten Dairi.
Pakpak Kelasen, yaitu orang Pakpak yang berasal dari dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anakampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (Kabupaten Tapanuli Tengah).
Pakpak Boang, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang, antara lain marga Saraan, Sambo, Penarik dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Meskipun para Antropolog memasukkan suku Pakpak ke dalam salah satu Subetnis Batak, sebagaimana suku Mandailing, Karo, Toba, dan Simalungun. Namun, suku Pakpak mempunyai versi tersendiri tentang asal-usul dan jati dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16) :
Keberadaan orang-orang Simbello, Simbacang,Siratak dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak;
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru,Simorgarorgar,Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang dan Purbaji.
Dalam Lapihen/Laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
Persebaran orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga yang ada di Suku Pakpak yang mengandung ke India-an seperti marga Lingga, Maha dan Maharaja, boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut.
Pakpak Keppas, yaitu orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha dan lain-lain. Ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Dairi.
Pakpak Pegagan, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan, antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Sikettang dan lain-lain, termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir Kabupaten Dairi.
Pakpak Kelasen, yaitu orang Pakpak yang berasal dari dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anakampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (Kabupaten Tapanuli Tengah).
Pakpak Boang, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang, antara lain marga Saraan, Sambo, Penarik dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Meskipun para Antropolog memasukkan suku Pakpak ke dalam salah satu Subetnis Batak, sebagaimana suku Mandailing, Karo, Toba, dan Simalungun. Namun, suku Pakpak mempunyai versi tersendiri tentang asal-usul dan jati dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16) :
Keberadaan orang-orang Simbello, Simbacang,Siratak dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak;
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru,Simorgarorgar,Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang dan Purbaji.
Dalam Lapihen/Laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
Persebaran orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga yang ada di Suku Pakpak yang mengandung ke India-an seperti marga Lingga, Maha dan Maharaja, boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut.
ADAT
PAKPAK
Adat
pakpak sifat nya dua macam (1):Ngkerja bagak(2
)Ngkerja njahat
)Ngkerja njahat
1:Ngkerja Bagak :kerja /pesta perkawinan dan adat nya terbagi 7 macam
yaitu:
*Merkata sipitu
*Merbayo
*Sohom-sohom
*Menoh kela
*Memelat soki
*Menada bunga rambu rambu
*Maing pertabar(pesakat mabruna kalon
yaitu:
*Merkata sipitu
*Merbayo
*Sohom-sohom
*Menoh kela
*Memelat soki
*Menada bunga rambu rambu
*Maing pertabar(pesakat mabruna kalon
2:Ngkerja Njahat:yg di sebut adad tentang akhir kematian adad nya ada 3 macam yaitu:
*Males bulung simbernaik
*Males bulung sampula
*Males bulung ni buluh
dengan tingkat kemampuan dan usia yg meningggal dunia yg di namakan bahasa ada yaitu
1.Tingkat membayar lemba berati yg meninggal sudah scayur ntua
2.Bura bura cipako berati yg meninggal sudah berumah tangga
3.Bura bura koning berati yg meninggal di bawah umur org dewasa.
*Males bulung simbernaik
*Males bulung sampula
*Males bulung ni buluh
dengan tingkat kemampuan dan usia yg meningggal dunia yg di namakan bahasa ada yaitu
1.Tingkat membayar lemba berati yg meninggal sudah scayur ntua
2.Bura bura cipako berati yg meninggal sudah berumah tangga
3.Bura bura koning berati yg meninggal di bawah umur org dewasa.
MENGENAI PELAKSANAN ADAT
Kata kunci dalam bahasa pakpak
*Mengido sodip mendahi puang
*Mengido gegoh mendahi berru
*Mengido pengurupi mendahi dedahen dengan se beltek
*Memerre serbeb mendahi pertua/orang tua
ADAT PERKAWINAN/MAHAN
UTANG
Memereken simpihir pihir berupa, mas,perak,kepeng secukupnya tapi oles nya harus lima
-Oles inang berru -oles culkkai -oles penatum -oles lemlem nakan-oles peraleng.
inilah merupakan kewajipan dari pihak laki laki yg harus di berikan ke pihak perempuan/si per brru/puang.
setelah pihak perempuan menerima kewajiban dari pihak laki laki maka pihak perempuan wajip pula memberikan yaitu:
-Nakan penjalon -penjukuti mersendihi - belagen 3 - kembal 12 - selampis baka 24
nama/glar, belagen peramak, belagen dabuhen/tabir,dinding ulu/tutup takal.
ramuan pelengkap nya yg mempunyai makna tersendiri di tambah dengan .nditak, dohomen pinahpah,lemang/ tinembu,galuh tasak, tebbu merlepak dengan beras simperbean.
ADAT NJHAHAT(KEPATEN)
Yang wajib dihadapi puang yaitu:
puang bona,puang pengamaki,puang lebbe,
puang bial disebut sampe ke pembayaran lemba.
berikut nya di berikan oles 3 lembar nama nya oles sintaken,oles tatakenken,oles baubau, di tambah simpihir pihir/mas.kepeng manoh manoh/kenagen yg sipat nya misal nya kebun, sawah atau seluas tanah dan pokok tanaman durian petai,kelapa ,dll.
sipuang rasa berkewajipan memberi pihak berru yaitu:
memereken nakan pengambat,memereken nakan persirangen,memereken nakan ariari tendi ket ieket jari kikambal kambirang pake bengkuang/bahan untuk baka.
yg bermakna supaya mpihir mo tendi ket mambal sindanggel, dan di berikan beras pengkicik simpihir tendi nakan tsb tidak terlepas dari merangkap kambing,ayam.
MENGENAI BUDAYA PAKPAK
Budaya pakpak terbagi 3 macam yaitu
(A)Budaya marga (B) Budaya lebbuh (C) Budaya jabu
A)*Budaya
marga disebut pelaksanaan nya mendangger uruk yg harus menghadirkan perisang
isang,pertulan tengah,damper ekur ekur,puang,bru,sicibal baleng.
di promotori oleh sipantes ndiase,si gedang radumen deket si baso.
hal tersebut dinamakan pesta budaya sulang silima (marga tertentu)
B)*Budaya lebbuh serupa diatas tapi sifat nya satu lebuh yg di sebut sada kuta
C)*budaya jabu/perjabujabu serupadiatas sifat nya perorangan atau keluarga.
SECARA UMUM A.B.C. masing masing budaya seni yg sama.
Odong -dong,nagen atau nyanyian.tangis milangi dan mempunyai oning oningen misal nya
genderang,gung,klondang,sordam,kecapi,lobat,taratoa,sagasaga,genggong,kettuk.
di promotori oleh sipantes ndiase,si gedang radumen deket si baso.
hal tersebut dinamakan pesta budaya sulang silima (marga tertentu)
B)*Budaya lebbuh serupa diatas tapi sifat nya satu lebuh yg di sebut sada kuta
C)*budaya jabu/perjabujabu serupadiatas sifat nya perorangan atau keluarga.
SECARA UMUM A.B.C. masing masing budaya seni yg sama.
Odong -dong,nagen atau nyanyian.tangis milangi dan mempunyai oning oningen misal nya
genderang,gung,klondang,sordam,kecapi,lobat,taratoa,sagasaga,genggong,kettuk.
ADAT STUKTUR SOSIAL
PAKPAK( FALSAFAH)
Adat dan struktur sosial kekerabatan Suku Pakpak yang disebut Sulang Silima, terdiri dari lima unsur yaitu
Perisang-isang
(Sinina pertama: anak sulung, kerabat semarga keturunan atau generasi tertua)
Pertulan-tengah
(Sinina kedua: anak tengah, kerabat semarga keturunan atau generasi yang
ditengah)
Perekur-ekur (Sinina
bungsu: anak bungsu, kerabat semarga keturunan terbungsu)
Perpunca Ndiadep /
Puang Kula-kula,pengituai,pemerintah(kerabat pemberi gadis)
Perbetekken / Berru,Sukut nitulan
(kerabat penerima gadis)
MAKANAN
DALAM KHAS BUDAYA PAKPAK
Peleng,Ginaruncor,Nditak,Tinembu,Lemang,Pianahpah ,Ginustung, Nakan pagit /Nakan simalum malum, nakan
serbeb,nakan
luah,nakan pengambat.nakan ari-ari tendi,memere ndirabaren.
Mejan merupakan peninggalan purbakala yang
ditemukan di Tanah Pakpak berupa patung-patung yang diukir dari batu. Patung-patung ini
berbentuk orang mengendarai binatang seperti: gajah, kuda, atau harimau. Mejan adalah suatu simbol kebanggaan
dan kemashyuran
bagi masyarakat
Pakpak, karena diyakini bahwa patung-patung tersebut mengandung unsur mistik
tersendiri. Selain mengandung nilai budaya yang tinggi, mejan ini juga
merupakan lambang
kebesaran marga Pakpak atau masyarakat
Pakpak.
Secara khusus masyarakat Pakpak memaknai mejan sebagai
simbol kepahlawanan. Pemahat yang membuat mejan ini adalah para pertaki dan mereka inilah pemilik mejan sekaligus pande tukang. Pembuatan mejan ini dahulu memakan waktu
yang cukup lama disertai
dengan mantra-mantra untuk mengisinya dengan roh yang biasa disebut
masyarakat Pakpak dengan nangguru yang mengisi batu mejan. Itulah sebabnya
mejan diyakini memiliki
kekuatan gaib dan para pertaki inilah yang memiliki kualifikasi
membuatnya.
Warga yang memiliki mejan dahulu kala merupakan
orang berada, karena dalam pembuatannya membutuhkan biaya yang lumayan besar dan memakan
waktu lama juga. Selain itu, untuk pembuatan mejan ini tidak
sembarangan, karena dalam pembuatannya harus mengikuti banyak ritual sebagai syarat-syarat
yang harus dipenuhi agar mejan tersebut nantinya memiliki kekuatan mistik. Setelah rampung patung ini ditempatkan
di gerbang kampung sebagai penangkal bala sekaligus penanda
kekuasaan marga selaku pemangku kuta, yaitu pendiri kampung.
Pada
zaman dulu, mejan berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang akan
masuk ke suatu daerah atau kampung. Konon, mejan dapat bersuara pada zaman dulu
bila musuh datang memasuki kampung atau bila suatu kampung akan mengalami suatu
kejadian. Suara ini diyakini
berasal dari nangguru yang berdiam di
dalam batu mejan tersebut.
Nangguru yang tinggal di batu Mejan dipercaya adalah roh nenek moyang
yang dipanggil melalui suatu ritual. Di situlah letak sifat mistik daripada
mejan yang telah disinggung sebelumnya (berbagai sumber).
1.Pengaruh Tamil dalam
Masyarakat Pakpak
Patung Mejan yang masih ada ditemukan sekarang ini diperkirakan berumur 400–900 tahun. Menurut hasil
penelitian para arkeolog yang pernah melakukan riset di daerah Pakpak Bharat,
keberadaan mejan tidak terlepas dari pengaruh Hindu yang juga identik
dengan budaya patungnya. Bentuk patung seperti gajah dan angsa adalah hasil
kontak mereka dengan para pendatang dari India. Bentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu
pertulenan (penyimpanan abu jenazah) sebenarnya tidak lain adalah hasil
interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan
bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai simbol kendaraan arwah (Soedewo, 2008:1-10).
Masuknya
unsur-unsur budaya Hindu - Tamil
ke dalam budaya Pakpak dimungkinkan oleh adanya kontak kedua budaya tersebut. Tempat yang paling memungkinkan
terjadinya kontak itu di masa lalu adalah Barus, yang bukti-bukti sejarah
maupun arkeologisnya menunjukkan tempat ini pernah berjaya sebagai bandar
internasional. Para pedagang Tamil dari
India mendatangi Barus untuk membeli kapur barus yang dihasilkan di daerah Pegunungan
Bukit Barisan yang menjadi tempat tinggal orang-orang Pakpak (Basarsyah,
2009:1-3; Soedewo, 2008:1-10).
Bukti
kehadiran orang-orang Tamil dari India adalah Prasasti Lobu Tua, yang
ditemukan di Barus. Prasasti berangka tahun 1010 Saka (1088 M) ini dikeluarkan
oleh suatu serikat dagang yang bernama Ayyāvole 500 (Perkumpulan 500)
(Sastri,1932:326 dan Subbarayalu,2002:24). Prasasti dengan tulisan Tamil ini ditemukan oleh pejabat Belanda GJJ Deutz tahun 1872. Setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA
Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931, menurutnya perkumpulan dagang etnik
Tamil tersebut
memiliki pasukan keamanan,
aturan perdagangan dan ketentuan lainnya. Anggotanya terdiri dari berbagai
aliran Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Berdasarkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel
Perret bersama tim dari
Ecole Francaise d Extreme-Orient (EFEO) membuktikan bahwa pada abad ke-8 sampai ke-12 di Lobu Tua, Barus telah terdapat
perkampungan multi-etnik
terdiri dari etnik Tamil, Cina, Arab dan sebagainya (Kumar, 2011:1).
Barus, yang merupakan bandar niaga
internasional di masa lalu tidak jauh dari Kelasan, yang berada di pegunungan
Bukit Barisan dan dulu menjadi persinggahan para pedagang yang datang dari
Kailasem di pegunungan Himalaya, India. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin
bahwa penduduk Kelasan yang sekarang dikenal sebagai salah satu suak di Tanah
Pakpak adalah keturunan dari hasil percampuran mereka. Orang-orang Tamil ini juga masuk terutama ke
daerah Simsim dan
Boang. Inilah yang menyebabkan adanya anggapan bahwa orang
Pakpak berasal dari India. Apalagi
di lapihen laklak Pakpak (buku laklak dari kulit kayu) ada tertulis "Enmo tambo si
Sewu si roh Indiha nari arap-arapen kayu mbellen soh mi Barus" (inilah
tambo si Sewu yang datang dari India dengan memakai rakit kayu besar sampai ke
Barus).
2.Keberadaan Mejan Kini
Mejan tetap masih ada ditemukan di wilayah Tanah Pakpak
meskipun sudah lumayan banyak juga yang hilang dicuri orang. Setidaknya di daerah seperti Tungtung
Batu, Berampu, Bangun, Tinada, Kerajaan, Kuta Nangka, Kuta Deleng, Kuta
Kersik, Penanggalan, Lebuh Simangun, Lebuh Nusa, Ronding, Sibande, dan Kaban
Tengah patung ini masih ada
sampai sekarang.Di luar Dairi
dan Pakpak Bharat ada juga di
daerah Parlilitan,
Humbang Hasundutan (berbagai sumber).
Menurut data dari Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Pakpak Bharat bahwa mejan tersebut ada di daerah sebagai
berikut: Mejan Berutu Kuta
Ujung dan Mejan Kesogihen di Pardomuan. Mejan Berutu Ulu Merah dan Mejan Berutu Tandak di Ulu Merah, Mejan Berutu Kuta Kersik dan Mejan Marga
Sinamo di Silimakuta, Mejan Bancin Penanggalan Jehe di Boang, Mejan Boangmanalu di Boangmanalu, Mejan Manik Arituntun dan Mejan Manik Aornakan Tao di Aornakan, Mejan Manik Lagan dan Mejan Manik Gaman serta Mejan Gajah di Simerpara, Mejan Manik Kecupak
di Kecupak I, Mejan Sanggar dan Mejan Pandua di Pangindar, Mejan Marga Sinamo
Siantar Julu di Perongil,
Mejan Padang di Jambu,Mejan Padang Kuta Babo di Kuta Babo, Mejan Solin Lae
Meang di Mahala, Mejan Solin Tamba di Majanggut II, Mejan Solin Kuta Delleng
dan Mejan Tinendung di Sukarame.
Mejan, sebagaimana telah dikemukakan di
atas, adalah kekayaan budaya Pakpak, sehingga perlu dijaga dan dipelihara dari
usaha-usaha pencurian dan perusakan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja
sama untuk menjaga dan memelihara mejan-mejan yang masih tersisa. ***
Njuahjuah


Oh, bagi nola kpeken, jadi lot ngo buku laklak tentang sejarah pakpak ibettoh ke silih brutu?
BalasHapusLot lih janah mbue deng i asli laklak kayu deng. Imo tepatna i desa singabure pakpak bharat marga solin kicekep.
HapusTapi buku laklak sinisinggabur i cuma brisi tabas / mantra nalako mahan tambar dkkt ilmu kebatinan ngo nina i silih,
BalasHapusbukan tentang sejarah suku pakpak umumnya,,,
Mungkin sini kuso ndene idi lain kalakna kerna oda sadakalak sidasa buku idi, lot ngo sejarahna itulis ibukuna idi peryataan singkatna ENMO TAMBO SI SEWU INDIHANA NARI ARAP-ARAPEN KAYU MBELEN SOH MI BARUS(Ini lah tambo si sewu datang dari india menggunakan Rakit terdampar di barus) imo ia penulisen singkatna silih.
HapusNama peninggalannya mana kak
BalasHapusTlong dibuatkan lha kak/bang