Kamis, 21 April 2022

SATOSHI-BTCs MINING | BTC MINING GRATIS

GalaxyITE.com -  Kali ini akan kita buktikan apakah mining satoshi scam atau benar membayar. Ini transparan dan bukti dapat ditarik ke akun INDODAX. Butuh waktu yang cukup lumayan lama untuk bisa membuktikan apakah aplikasi ini benar membayar atau hanya memenuhi ruang penyimpanan phonsel anda. 

Asal kata BTCs mengambil dari BTC + Satoshi Nakamoto, yang artinya Bitcoin ditandatangani oleh Satoshi Nakamoto.

Misi utama dari aplikasi ini ialah, Perkembangan pesat Bitcoin yang membuat nilainya naik jutaan kali dalam sepuluh tahun telah membuat hanya sedikit orang yang terjebak dengan Bitcoin dan ini tidak sejalan dengan penciptaan kekayaan yang adil dan semangat perlindungan kekayaan Satoshi Nakamoto dan ini sekarang mengarah ke kelahiran Satoshi Coin (BTC).

Satoshi Coin (BTC) berkomitmen untuk menciptakan kembali "Bitcoin kedua (BTC)," yang memungkinkan lebih banyak orang untuk mengambil kereta kekayaan kedua. Tidak ada pra-penambangan! Adil dan gratis! Biarkan lebih banyak orang memilikinya secara gratis sekarang melalui penambangan ponsel. Ini adalah misi BTCs. Cara DAFTAR KLIK DISINI Tahan beberapa saat Lalu Open

 https://www.btcs.love/invite/3alvl

Atau scan QR dibawah ini

Jumat, 15 Juli 2016

Fakta Ilmiah: Atlantis Yang Hilang Teryata Indonesia(Nusantara)

Fakta Ilmiah :Atlantis yang Hilang Itu Ternyata Indonesia Nusantara
MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Gambaran tentang Benua Atlantis sepenuhnya bersumber dari Catatan Plato (427 – 347 SM) dalam dua karyanya, yaitu Timaeus dan Critias. dalam bukunya yang diberi judul Timaeus, Plato bercerita sangat menarik tentang Atlantis, Berikut ini kutipannya:
“ Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”
Terjemahan Latin Timaeus, dibuat pada abad pertengahan.
Plato menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos, seorang atlantolog, geolog, dan fisikawan nuklir asal Brazil, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku : Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantismerupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Luxury top luxury car brands most expensive forex indonesia terbaik broker forex indonesia terpercaya Lamborghini Luxury top luxury car brands most expensive 2016
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru / Sumeru / Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower) ,Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Peta Atlantis menurut Arysio Nunes dos Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found terletak di Indonesia.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk / posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni :
pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***
* Penulis adalah Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Silakan lihat video Wawancara Ekslusif bersama Prof. Arysio Santos tentang Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization Via YouTobe.com

Suku Pakpak Bukan Batak(SPBB)


1.Pendahuluan

Orang Pakpak Berdasarkan Migrasi Leluhur

   Orang Pakpak berada di wilayah Sumatera bagian Utara dan untuk dapat mengenal Orang Pakpak lebih jauh, maka perlu mengetahui asal migrasi leluhurnya. Arkeolog senior, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Arkeologi Nasional telah malang-melintang melakukan penelitian arkeologi prasejarah selama ini di Indonesia. Peneliti dan Direktur Center for Prehistoric Austronesian Studies ini memaparkan bahwa pada masa Pleistosen yang terentang mulai dari 2 juta tahun lalu hingga 11.500 tahun lalu, bumi begitu dinamis. Banyak pergerakan lempeng bumi, aktifnya gunung api, dan peng-es-an (glasiasi), sehingga diduga pada masa itulah banyak manusia dan hewan bermigrasi. Di Indonesia, pertanggalan tertua berasal dari situs Song terus, Pacitan, sekitar 45.000 tahun lalu. Lalu, berlanjut dengan berakhirnya zaman es awal Holosen yang menyebabkan kenaikan air laut, sehingga memicu diaspora pada 10.000 – 5.000 SM, kedatangan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu hingga zaman fajar sejarah alias protosejarah beberapa abad menjelang Masehi (Majalah Arkeologi Indonesia, 16/03-2014).
Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak memaparkan, bahwa berdasarkan data arkeologi, etnologi, dan paleontologi, terdeteksi adanya arus migrasi, selain penutur Austronesia dan Papua, yang masuk dari sisi barat melewati Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Mereka adalah penutur Austroasiatik. Penutur Austroasiatik ini tiba di Indonesia pada 4.300-4.100 tahun lalu yang kemudian baru disusul penutur Austronesia pada kisaran 4.000 tahun lalu. Austroasiatik dan Austronesia sebenarnya berasal dari satu rumpun bahasa yang sama, yaitu bahasa Austrik, tetapi kemudian pecah. Bahasa Austroasiatik digunakan di sekitar Asia Tenggara Daratan, sedangkan Austronesia digunakan di wilayah kepulauan, seperti Taiwan, Filipina, Pasifik, Madagaskar, hingga Pulau Paskah. Bahasa Austrik awalnya dimanfaatkan masyarakat Yunan, Cina Selatan. Bahasa ini kemudian pecah menjadi dua, yaitu Austroasiatik dan Austronesia, yang kemudian menjadi penyebutan nama kelompok berdasarkan penggolongan bahasa. Pada 4.300-4.100 tahun lalu, dari Yunan, penutur Austroasiatik bermigrasi ke Vietnam dan Kamboja lewat Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Salah satu penandanya ialah temuan tembikar-tembikar berhias tali yang bentuknya sama dengan tembikar di selatan Tiongkok hingga Taiwan. Kemudian, pada 4.000-an tahun lalu, muncul arus migrasi penutur Austronesia lewat sisi timur Indonesia. Arus migrasi itu muncul mulai dari Sulawesi, Kalimantan, dan sebagian ke selatan, seperti Nusa Tenggara, hingga menuju Jawa dan Sumatera (Kompas, 27/11-2014).

   Kembali Prof. Harry Truman Simanjuntak menegaskan, bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya dua arus migrasi besar ke Indonesia yang menjadi cikal bakal leluhur langsung bangsa Indonesia. Pertama, penutur Austroasiatik yang tiba pada 4.300-4.100 tahun lalu dan, kedua, penutur Austronesia yang datang pada kisaran 4.000 tahun lalu. Arus migrasi terjadi setelah pertanian di sekitar Cina Selatan (asal kedua rumpun itu) berkembang pesat hingga terjadi ledakan jumlah penduduk yang memaksa mereka bermigrasi. Kedua ras Mongoloid yang menggunakan bahasa berbeda ini akhirnya bertemu di sekitar Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Penutur Austronesia ternyata lebih berhasil  mempengaruhi penutur Austroasiatik, sehingga berubah menjadi penutur bahasa lain. Sebelum kedua penutur tadi datang, sudah ada ras Australomelanesoid, yang hingga sekarang hidup di wilayah Indonesia timur, seperti Papua (Kompas, 07/08-2014). Jadi, ada tiga penutur bahasa yang menjadi cikal-bakal leluhur bangsa Indonesia pada masa prasejarah, yaitu: Orang Negrito (dari ras Australomelanesoid seperti Papua), penutur Austrosiatik, dan penutur Austronesia.

   Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini berasal dari ras Mongoloid yang berasal dari Cina Selatan, sedang Orang Negrito berasal dari ras Australomelanesoid (campuran ras Australoid dan ras Melanesoid). Orang Negrito ini datang lebih awal ke Sumatera setelah Sundaland tenggelam yang datang dari Hoabinh, Teluk Tonkin, Vietnam. Di pesisir Sumatera bagian Utara, migrasi Orang Negrito ditandai dengan ditemukannya bukit-bukit kerang dari Deli Serdang hingga Lhok Seumawe. Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), MacKinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan (Balarmed) di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang pada masa Mesolitik, 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21). Belakangan ditambah dengan hasil penelitian Balarmed di Bener Meriah di Aceh (2012)  (Wiradnyana, 2011:127). Temuan fosil tertua dari Loyang Mandale, Aceh Tengah berusia 8.430 tahun (Lintas Gayo, 11/07-2014).

   Sumatera bagian Utara terbukti sudah didatangi para pendukung budaya Hoabinh, yaitu Orang Negrito pada masa Mesolitik (10.000-6.000 tahun lalu). Mengingat bukit kerang ditemukan juga di Deli Serdang dan Langkat yang telah dilakukan penelitian arkeologi, maka sangat mungkin Orang Negrito datang juga ke Tanah Pakpak. Apalagi di Humbang, Negeri Toba telah ditemukan keberadaan Orang Negrito yang bersebelahan dengan Tanah Pakpak. Kemudian, seperti dikemukakan Harry Truman Simanjuntak sebelumnya, bahwa penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia datang juga ke Sumatera bagian Utara, sehingga bahasa Pakpak dimenangkan oleh penutur Austronesia. Oleh karena itu, bahasa Pakpak termasuk rumpun bahasa Austronesia  (Adelaar, 1981:55), seperti bahasa Simalungun, Toba, Karo, dan Mandailing juga termasuk rumpun bahasa Austronesia.
Selain itu, ada juga jejak Tamil dari India Selatan di dalam masyarakat Pakpak. Orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16):

.    Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.

2.Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.

3.Dalam lapiken/laklak  (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.

4.Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.

5.Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.

Kemiripan hasil-hasil budaya Pakpak merupakan buah dari kontak dagang Pakpak dengan India (Tamil). Khususnya Barus merupakan bandar internasional, menjadi gerbang bagi transfer budaya dari India terhadap budaya Pakpak yang terjadi setidaknya sejak akhir abad ke-10 M atau awal abad ke-11 M. Sejumlah unsur budaya India itu telah memperkaya kebudayaan Pakpak sebagaimana dapat dilihat jejak-jejaknya hingga kini (Soedewo, 2008, dalamhttps://balarmedan.wordpress.com).

   Diceritakan bahwa nenek-moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Barus dan mereka terus masuk hingga ke Dairi dulu. Mereka mempunyai anak yang diberi nama HYANG, nama yang dikeramatkan di Pakpak. Kemudian hari Hyang menikahi putri Raja Barus dan mempunyai 8 orang anak yaitu: Mahaji, Perbaju Bigo, Ranggar Jodi, Mpu Bada, Raja Pako, Bata, dan Suari (Putri). Parultop Padang Batanghari memiliki putri Pinggan Matio, yang dikawini  Raja Silahisabungan. Pdt. Abednego Padang Batanghari menyebutkan bahwa Parultop merupakan generasi kesembilan dari marga Padang Batanghari (Tabloid TANO BATAK, Edisi Oktober 2010).

  Jadi, dari migrasi yang datang ke Sumatera bagian Utara tadi terlihat yaitu: Orang Negrito, penutur Austroasiatik, penutur Austronesia, dan Orang Tamil dari India Selatan. Berdasarkan migrasi leluhur tadi, maka Orang Pakpak diperkirakan terutama merupakan campuran dari 4 (empat) penutur bahasa, yaitu:

1.Orang Negrito (Masa Mesolitik: 10.000 -     6000 tahun lalu).
2.Penutur Austroasiatik (Masa Neolitik: 6.000 - 2.000 tahun lalu).
3.Penutur Austronesia (Masa Neolitik:     6.000 - 2.000 tahun lalu).

4.Orang Tamil dari India Selatan (Masa periode tahun masehi).

   Bahasa Pakpak yang termasuk rumpun bahasa Austronesia merupakan bukti bahwa penutur Austronesia sudah datang ke Tanah Pakpak di masa lalu sebagai masyarakat awal pada masa prasejarah seperti Orang Karo. Sementara Orang Karo telah terbukti melalui DNAnya, karena ditemukan unsur: Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan Tamil.

Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula

   Pada Juli 2013, Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian "Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir" dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survei arkeologi. Tinggalan megalitik yang mereka temukan di Samosir, yaitu: sarkofagus, tempayan batu, kubus batu, kubur pahat batu, tambak batu, batu dakon, menhir, patung-patung batu seperti patung pangulu balang, lesung batu, palungan batu, bottean, sakkal, gajah dari batu paha, parik (pagar batu), dan punden berundak. Tempayan batu seperti disebutkan tadi ada ditemukan di Sumatera Selatan yang berasal dari millenium kedua masehi. Rumah adat memiliki pola arsitektur rumah panggung  melengkung yang merupakan ciri budaya Dong Son. Pola hias di rumah adat dalam bentuk berbagai macam binatang dan sulur-suluran yang dibuat dengan hiasan rumbai-rumbai seperti bulu-bulu yang panjang baik itu pada pahatan flora ataupun pahatan fauna mengingatkan akan hiasan model yang serupa pada benda-benda perunggu yang berasal dari Dong Son. Gambar cecak sebagai lambang kejujuran dan atau kebenaran bagi para pemimpin yang memimpin. Pada tradisi paleometalik Dong Son sangat umum dikenal motif-motif antara lain sulur-suluran, spiral atau pilin berganda, geometris berupa segi empat, bulatan, tumpal maupun belah ketupat dan motif-motif itu masih selalu hadir pada berbagai aspek tinggalan budaya Toba (Wiradnyana & Setiawan, Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir, 2013).

   Berdasarkan penelitian arkeologi di atas, disimpulkan bahwa pendukung budaya Dong Son yang merupakan penutur bahasa Austronesia telah datang dari Cina Selatan setelah melalui Taiwan terus berakhir di Sianjur Mula-mula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu (Wiradnyana, 2015). Hal ini sesuai dengan Teori Out of Taiwan yang sangat terkenal itu. Mark Lipson (Juni 2014) ---dengan menggunakan data-data dari HUGO Pan-Asian SNP Consortium dan CEPH-Human Genome Diversity Panel (HGDP), yang data awalnya dipasok oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman --- melakukan analisa statistikal atas DNA penutur Austronesia. Analisa atas DNA penutur Austronesia itu termasuk DNA Orang Toba (Mark Lipson,  New statistical genetic methods for elucidating the history and evolution of human populations, 2014:85-90) dapat disimpulkan bahwa Orang Taiwan yang datang ke Sianjur Mula-mula berasal dari suku Amis dan suku Atayal, yang kedua-duanya merupakan suku asli Taiwan. Khusus suku Amis dan suku Atayal merupakan keturunan dari suku H’Tin dari Thailand (Austroasiatik) yang sudah bercampur dengan penutur Austronesia, sehingga kedua suku ini memiliki DNA: Austronesia + Austroasiatik. Diperkirakan percampuran itu terjadi di Cina Selatan dan oleh karena ledakan penduduk, mereka pun bermigrasi ke Taiwan membentuk suku Amis dan suku Atayal tadi. Jadi, DNA penghuni awal Sianjur Mula-mula terdiri dari Austronesia dan Austroasitik.

Antara Fakta atau Mitos

   Menurut penuturan W.M. Hutagalung, dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: TAROMBO DOHOT TURITURIAN NI BANGSO BATAK” (1926), bahwa Si Raja Batak adalah keturunan dari Raja Ihat Manisia sebagai hasil perkawinan dari Si Borudeak Parujar dengan Raja Odapodap. Mereka berdua adalah penghuni langit ketujuh yang turun ke bumi dan mendiami Sianjur Mula-mula di kaki Pusuk Puhit. Mereka berdua turun-naik melalui puncak Pusuk Buhit ke Sianjur Mula-mula dan Sianjur Mula-mula dipandang sebagai kampung awal persebaran manusia. Si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia. Dalam tarombo dan turiturian itu diceritakan bahwa keturunan Si Raja Batak ada sebagian ke tanah Pakpak membentuk Batak Pakpak, ke tanah Karo membentuk Batak Karo, ke tanah Simalungun membentuk Batak Simalungun, dan ke tanah Mandailing membentuk Batak Mandailing. Begitulah ringkasan penuturan W.M. Hutagalung dalam bukunya yang laris manis itu.

   Apabila melihat kepada Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula, maka jelas bahwa Si Raja Batak adalah Orang Taiwan yang memiliki DNA Austronesia dan Austroasiatik. Sementara Orang Pakpak merupakan keturunan dari campuran Orang Negrito yang datang pada masa Mesolitik, penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia yang datang pada masa Neolitik, serta Orang Tamil. Maka, jelas berbeda kedatangannya yang jauh lebih dulu  kedatangan dari Orang Negrito, penutur Austroasiatik, dan penutur Austronesia dibanding Si Raja Batak yang diperkirakan datang sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu. Kemudian dari campuran tadi jelas bahwa Orang Pakpak berbeda secara genetik dengan Si Raja Batak yang Orang Taiwan tadi. Sehingga, pernyataan bahwa Orang Pakpak adalah keturunan Si Raja Batak bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

   Sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di Negeri Toba, dalam bukunya: “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia” (2000:339), Peter Belwood menulis bahwa  Orang Negrito sudah datang ke Humbang di Negeri Toba pada sekitar 6.500 tahun lalu. Peter Belwood merujuk pada hasil penelitian paleontologi yang dilakukan Bernard K. Maloney di Pea Simsim, Pea Sijajap, Pea Bullock, dan Tao Sipinggan daerah Humbang. Penelitian Maloney ini dan penelitian Balai Arkeologi Medan di Samosir yang sudah disebutkan tadi dikonfirmasi oleh hasil analisa DNA Orang Toba oleh Mark Lipson (2014:87) dengan menyimpulkan bahwa DNA Orang Toba terdiri dari: Austronesia 55%, Austroasiatik 25%, dan Negrito 20%. Maka, jelas bahwa Orang Toba bukan hanya Orang Taiwan (Austronesia+Austroasitik), tetapi campuran Orang Taiwan dan Orang Negrito. Orang Negrito sudah ada mendiami  Humbang sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di kaki Pusuk Buhit, Negeri Toba, sehingga pernyataan bahwa Sianjur Mula-mula merupakan awal persebaran manusia bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

Kesimpulan

   Orang Pakpak bukanlah Orang Taiwan seperti Si Raja Batak yang Orang Taiwan, melainkan campuran Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan Tamil. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Orang Pakpak bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula. Orang Pakpak lebih dulu sampai di Tanah Pakpak yang sudah datang pada masa prasejarah daripada Si Raja Batak yang sampai di Sianjur Mula-mula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu, sehingga migrasi Orang Toba ke Tanah Pakpak tidak menjadikan Orang Pakpak menjadi keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula. Jelas bahwa tidak ada hubungan genealogis Si Raja Batak dengan Orang Pakpak, sementara bahasa Toba dan bahasa Pakpak termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Akhirnya, pernyataan bahwa Orang Pakpak adalah keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos!  ***

ADAKAH  ETNIS DAN KEBUDAYAAN BATAK?

Jawabnya tidak ada...!!!!

Dalam banyak literatur tertulis etnis Batak terdiri dari lima atau enam cabang yaitu Toba, Karo, Mandiling, Simalungun, Pakpak dan Angkola. Bahkan dalam memory banyak orang juga demikian. Seolah-olah ada  kebudayaan dan etnis Batak tersebut.Kalau ada etnis, tentu ada kebudayaannya yang bisa mempersatukan tenis tersebut. Sebagai perbedaan dengan etnis lainnya.Lalu kalau ditanya  yang mana   kebudayaan Batak itu, semua bingung menjelaskannya secara rinci. Tetapi akan menyebutnya secara campur aduk. Misalnya budaya Toba,  budaya Karo, budaya Simalungun, budaya Pakpak, budaya Mandiling, budaya Angkola. Itulah yang mereka maksud  budaya Batak.Apa memang demikian?

2. Istilah Batak

   Menurut Dada Meuraxa (1971:40)  ada yang menduga asal Batak ini, nama seorang raja = Siraja Batak. Ada pula berpendapat kata ini berasal dari kalimat: Beratak atak = berbaris. Rumah orang.  Batak disusun berbaris, lalu disebut beratak-atak. Kalau bukan itu, ada pula berpendapat, Batak itu asal kata : Batok = Keras. Ingat batok kelapa. Orang Belanda menyebut Batakker = Kuda Batak. Maksudnya Batak ahli penunggang Kuda. Ada pula yang menyangka Bata = Debata. (Tuhan). Mana yang benar, entahlah Anda  boleh pikir sendiri.Menurut Ichwan Azhari, "Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan," kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).Masih menurut Ichwan Azhari,  pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi  Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, "... masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu."
Masih menurut Ichwan Azhari, tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan menginkarena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu," katanya.Berdasar  keterangan di atas, sama sekali tidak menyebut ada kerajaan Batak atau etnis Batak.

3. Adakah Etnis Batak?

   Kalau menurut keterangan dari saudara-saudara etnis Toba, ada etnis Batak yang dipimpin  oleh si Raja Batak. Kalau menurut Tarombo Batak, Batak Tobalah yang tertua, lalu bercabang-cabang,  berpencar ke wilayah  Sumatera Utara.Ada yang menggolongkan etnis Batak itu 5 kelompok, ada yang menggolongkan 6 kelompok yaitu Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak dan Angkola.Semua orang Toba, Karo, Mandiling, Simalungun, Pakpak dan Angkola ditarik silsilahnya ke Raja Batak, seolah-olah semua etnis Toba, Karo, Mandiling, Simalungun, Pakpak dan Angkola keturunan si Raja Batak.Tidak pernah dipahami, kalau dalam etnis tersebut ada keturunan Tamil. Kalau pada masyarakat Aceh keturunan Tamil adalah orang-orang Aceh yang berdomisili di Sigli (Pidie ?), kalau pada masyarakat Karo keturunan Tamil ini adalah semua yang bermarga Sembiring dengan cabang-cabangnya.Jadi tidak benar yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo adalah keturunan si Raja Batak.  Jadi tidak benar Tarombo Raja Batak itu bila dilihat dari perspektif masyarakat Karo.Pertanyaan kemudian, kalau ada etnis Batak, tentulah ada kebudayaan Batak, yang mempersatukan kelima atau keenam etnis tersebut. Ada yang mengatakan yang dimaksud kebudayaan Batak itu adalah bahasa, marga, dalihan natolu antara lain.

4. Adakah kebudayaan batak?

   Pertanyaan sekarang, yang mana kebudayaan Batak itu? Atau adakah kebudayaan Batak itu?Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa bila ditanya tentang kebudayaan Batak, akan menyebutnya secara campur aduk. Misalnya budaya Toba,  budaya Karo, budaya Simalungun, budaya Pakpak, budaya Mandiling, budaya Angkola. Itulah yang mereka maksud  budaya Batak. Itu jelas bukan penjelasan tentang kebudayaan Batak. Kalau ada kebuadyaan Batak, kebudayaan itulah yang mempersatukan semua etnis Batak yang ada.  Nyatanya tidak.Jadi kalau kebudayaan Batak tidak ada, maka yang ada adalah kebudayaan Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Mandailing. Diantara kebudayan Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Mandailing,selain terdapat banyak persamaan, juga terdapat banyak perbedaan.
Contoh perbedaan itu antara lain, salam dalam kelima etnis tersebut., Karo salamnya Mejuah-juah, Pakpak salamnya Njuah-juah, Toba salamnya Horas, Simalungun salamnya Horas, Mandailing/Angkola salamnya, Horas. Beda pengucapannya dan penulisannya.Kalau  ada kebudayaan Batak, salamnya tentu sama pengucapannya, bukan berbeda begitu Mejuah-juah, Njuah-juah dan Horas. Kalau berpedoman kepada kata  salam boleh jadi yang dimaksud Batak itu adalah Toba, Simalungun dan Mandailing/Angkola.Contoh lain misalnya dalam hal bahasa, antara bahasa Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Mandailing/Angkola, berbeda, walau ada persamaan. Bahkan bahasa Karo mempunyai kata-kata yang sama penulisan dan artinya dengan bahasa Bali.
Sebagai contoh perbedaan dan persamaan bahasa Karo,Pakpak dan Toba.

BAHASA TOBA, KARO DAN PAKPAK

Karo Pakpak Toba ndonesia

Ban,bakin,baen,Buat
Beluh,Mpistar,malo,Pandai
Bernak,Taptap,Bornok,Basah
Berngi,Berngin,Borngin,Malam
Beteh,Betoh,Boto,Tahu
Bincar,Mbincar,Binsar,Bercahaya
Buat,Buat,Buat, Bikin
Buni,Boni,Buni,Simpan
Cikep,Cekep,Tiop,Pegang
Dalan,Dalan,Dalan,Jalan
Dung,Sidung,Dung,Selesai
Ema,Bagidi,Umma,Begitulah
Gegeh,Gegoh,Gogo,Kuat
Gelem,Cekep,Golom,Pegang
Imen,Emen,Momon,Ingus
Jabu,Bekas kom,Jabu,Rumah Tangga
Jelma,jelma,jolma,Orang
Kalak,Kalak,Halak,Orang
Kedun,Kaduan,Haduan,Lusa
Keleng,Keleng,holong,Sayang
Kepe,Kepe,Hape,Begitulah
Kundul,Kundul,Hundul,duduk
Kuta,Kuta,Huta,Kampung
Lungen,Lungun,lungun,Sunyi
Malem,Njuah,Malum,Sejuk,(Nyaman)
Manuk,Manuk,Manuk,Ayam
Mbelgah,Mbelgah,Balga,Besar

Kata Dalam Bahasa Karo dan Bali

Artinya (Dalam Bahasa Indonesia)

Bangke,Bangkai
Bapa,ayah (istilah Bapa pada masy. Bali hanya digunakan golongan tertentu)
Bedil,Senjata
Belat,sekat,dakep,peluk (karo), tangkap (bali)
Daksina,selatan
Dingding,dinding
Dukut,rumput
getep/getap,potong
gim,akhir dari permainan
inem,minum
inget,ingat
jelma,orang
jemak,pegang (Karo), ambil (Bali)
jukjuk,menjolok
kacip,jepit
lateng,jelatang
matah,mentah
mulih,pulang
tasak,masak
Walaupun banyak persamaan kata dalam bahasa Karo dengan bahasa Bali, bukan berarti etnis Karo sama dengan etnis Bali, dan Etnis Bali sama dengan etnis Karo.
Demikian dalam sistem relegi, di Toba disebut Parmalim, di Karo disebut Pemena. Keseniannya juga berbeda.
Kalau tidak ada perbedaan dapatlah dikatakan itulah kebudayaan Batak. Ini terdapat banyak perbedaan mulai dari bahasa sampai gaya hidup dan nilai-nilai filosofis, bagaimana menjelaskan perbedaan ini dengan memasukkannya ke dalam pengertian kebudayaan Batak?Beda dengan kebudayaan Indonesia, walaupun Indonesia baru dibentuk sejak 17 Agustus 1945, kebudayaannya sudah ada yaitu antara lain bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan antar etnik yang ada di wilayah Indonesia, Bendera Merah Putih, Ideologi Pancasila denganLambang Binneka Tunggal Ika, produk-produk hukum, peraturan-peraturan yang dibuat sesudah Indonesia merdeka, dan lainnnya yang berfungsi sebagai alat pemersatu.Jadi adakah kebudayaan Batak itu? Yang dapat mempersatukan Batak tersebut secara epistemology (bukti materialnya)?!                                                                                                                   
   Maka kebudayaan Batak tidak ada ,yang ada adalah kebudayan Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Mandailing. Kalau demikian adanya, maka jelas KARO BUKAN BATAK, atau TOBA BUKAN BATAK, SIMALUNGUN BUKAN BATAK, PAKPAK BUKAN BATAK, dan MANDAILING BUKAN BATAK.Jadi kalau etnis lain seperti Simalungun, Pakpak, Mandailing/Angkola dan Toba juga menganggap dirinya bukan Batak  ya  terserah mereka . Tetapi yang jelas kebudayaan Batak itu tidak ada.Bila ada yang masih mempertahankan istilah Batak untuk merangkul ke lima etnis (Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Mandailing), maka orang yang mempertahankan tersebut pasti mendapat keuntungan di balik penggunaan nama Batak tersebut, pertama mungkin keuntungan materi dan kedua keuntungan psikologis. Kalau kelima etnis ini tidak lagi disebut Batak, maka dagangannya tidak lagi laku, akhirnya dia tidak mendapat untung lagi.

4.1 Bahasa

   Kalau ada bahasa Batak, tentu para pendukung kebudayaan Batak ini, saling mengerti ketika berkomunikasi. Kalau Toba menggunakan bahasa Toba untuk berkomunikasi sesama Toba, Karo atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun, juga ikut  mengerti. Demikian sebaliknya kalau Karo berkomunikasi sesama Karo, Toba atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun, juga mereka mengerti. Kenyataannya tidak. Kalau Toba menggunakan bahasa Toba untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Toba, Karo atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun, tidak mengerti. Demikian sebaliknya kalau Karo berkomunikasi menggunakan bahasa Karo, Toba atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun, juga juga  mengerti.
Jadi kalau dari segi bahasa, tidak ada  bahasa Batak yang  mempersatukan yang masuk ke dalam etnis Batak tersebut, yang ada adalah bahasa Toba, Karo,Mandailing,.Angkola,Pakpak,dan Simalungun.

4.2 Marga

   Marga bukan hanya dimonopoli Batak saja, tetapi etnis non-Batak juga banyak yang punya marga, misalnya Nias, orang Bengkulu, orang Lampung, orang di Papua, orang di Sulawesi Utara, orang di Maluku, NTT, juga punya marga. Kalau sama-sama punya marga mengapa mereka tidak dimasukkan ke dalam Batak juga oleh merka yang mengatakan marga hanya dimiliki oleh etnis Batak?

4.3 Dalihan Natolu.

   Dalihan Na Tolu bukan hanya milik orang yang disebut Batak di Sumatera Utara saja.Nama Tiga Tungku ini, Karo menyebutnya Rakut Si Telu,Mandiling Angkola menyebutnya Dalian Na Tolu ,Simalungun menyebutnya Tolu Sahundulan dan Toba menyebutnya Dalihan Natolu.
Dari penyebutan nama atau isitilahnya saja sudah berbeda. Kalau Karo itu bagian dari Batak penyebutan 3 Tungku ini seragam. Kalau Toba menyebutnya Dalihan Natolu, maka semua etnis yang tergabung ke dalam Toba menyebutnya Dalihan Natolu juga. Inikan tidak.Kemudian 3 tungku ini bukan hanya terdapat pada masyarakat Karo, Mandailing-Angkola,Simalungun,Toba khusus Suku Pakpak tidak mengenal Dalihan Natolu Tetapi SULANG SILIMA. Dalam masyarakat Minang  juga ada yang disebut Tigo Tungku Sajarangan dan Masyarakat Lamaholot di Nusa Tenggara Timur juga ada dengan menyebutnya Lika Telo. Mengapa Minang dan Lamaholot tidak dimasukkan ke dalam Batak juga oleh yang mengatakan 3 tungku ini hanya ada dalam masyarakat Batak? Pada hal mereka juga punya 3 tungku?

5. Simpulan

   Dari uraian di atas, jelaslah tidak ada etnis Batak itu,  tidak ada kebudayaan Batak, yang adalah etnis Toba, Karo, Mandailing,.Angkola,  Pakpak, dan Simalungun, dan kebudayaan Toba, Karo, Mandailing,.Angkola,  Pakpak, dan Simalungun.

Daftar Pustaka

Dada Meuraxa .1971. Keradjaan Melaju Purba (Sekitar Suku2 Disumatera). Atjeh, Gajo, Dairi/Pakpak, Karo, Simelungun, Batak Toba, Mandailing., Minang Kabau. Nias, Kubu, Dll..Medan: Penerbit:Kalidasa

Darwin Prints. Kamus Karo-Indonesia

Ichwan Azhari.Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman Dan Belanda.
http://news.detik.com/read/2010/11/15/011100/1494118/10/batak-sebagai-nama-etnik-dikonstruksi-jerman-dan-belanda
JP.Sarumpaet. Kamus Batak Indonesia
P.Leo Joosten. Kamus Indonesia-Karo
SK.Gintings, EP.Gintings, Bujur Surbakti. Kamus Karo-Indonesia.
Sri Reshi Anandakusuma. Kamus Bahasa Bali.
Dan Berbagai sumber lainnya.

Njuahjuah

Minggu, 03 Juli 2016

Persiroen Si SINGKAM Deket Si BARBAREN

   Lot mo sada arnia sukut sukuten ale kaltu mergerar si Singkam turangna mergerar Si Doriangin. Lot ma mo si jae kuta mergerar si barbaren lot turangna sada mergerar Si Renciten. Nai lot ma mo si jae kuta mergerar si Raja Bunga-bunga songket ni jengkar mo tempanan. Merunjuk mo si Raja Bunga-bunga i buat mo turang ni si Singkam si mergerar Si Doriangan. Kessa bagidi ibuat nola turang ni si barbaren si mergerar si Renciten jadi tinokorna peduaken. Enggo kessa bagi i embah mo duana daberru idi mi kuta janah ibaning mo Perkeba keba Perbekasen daberruna idi. Kessa lot setahun i pertinokor si Raja Bunga-bunga nai berat daging mo jelma idi meraduna. Jumpa mo itahuna deket i ketikana asa rebbak i ketaring mo tokor emasna idi duana janah daholi mo dukakna duana todes tempana, todes Belgahna, todes sorana tangis, todes maholina nai merpikkir mo si Raja Bunga bunga, dua kubuat perukatku meraduna menter rebak tubuhen anak ku buat mo roroh (jukut) asa rebbak ku baba mi lae anakku idi bagidi mo dok pikirenna asa i dokken mo naposona tuberas deket merikani( Mengusahaken beras deket ikan tah jukut) lako roroh. Kessa lot roroh dekket beras asa i aleng mo kula-kulana i mo turang ni tinokorna idi. Kessa sama roh turang ni si Doriangain dekket turang ni si beru Renciten asa i buat si Raja Bunga bunga mo kerbo sada i pertasak naposona daholi kerbo idi i dokken mo merdakani naposona daberru. Kessa ntasak jukut deket nakan asa i petupa mo sada permanganen sintterem sada permanganen nasa kula-kulana sada ma permanganen ia nasa sukut. Kessa cibal karina panganen asa mertenggo mo ia bai nasa si ni kutana idi.
   Kessa karina roh merpulung mi bagesna idi asa msndok rana mo si Raja Bunga bunga. Merpulung  mo kene karina nasa sintterem i urung tengah idi tan perlak en mo karina nasa Puangku, kene nasa sininangku roh mo ke karina mi terruh ngeanku en isen mo kita merpulung mangan bagimo dok si Raja Bunga bunga.
   Ue dok si nasa berena panganen idi asa merpellin mo nasa sinterrem tuhu merpellin nasa kula kulana merpellin nasa ia sebeltek kessa bagidi asa i bakin si Raja Bunga bunga jukut kerbo idi sada pinggan bI si Barbaren. Kessa bagi asa mangan mo i karina. Dung kessa manganasa marapurun asa i sahutken mo kata nakan idi mendahiken sintterem, i sahutken karina dengan kutana idi. Nai mongkam mo si Singkam idi ale silih enggo mo kami bessur karina nasa si ni tenggomu en bessur meroroh gerar si ni panganta idi kade ngo bagahken kene mo asa kubettoh kami nagidi dok si Sungkam.
   Ue ale silih akum ni dok ndene idi tuhu ngidi. Asa kubuat pe nakan en dekket jukut sipangan merkiteken beberre ndene nggo tubuh. Bagimo dok Raja Bunga bunga. 
Muda merkerohen pinupusku idi mo kita nemu ale silih berre oles mo dekket pemere en bagimo do si Singkam.
Dalan ukum silih malot teralo mada menektek menir gia lot ngo ku bakin ale silih bagimo do si Raja Bunga bunga.
   Asa i bereken mo oles tersarambar bai si Singkam deket Barbaren. Kessa i jalo kula-kula idi oles idi asa mengerana mo si Barbaren. Eggo mo kami meroles i bakin kene ale silih gerar beberre nami idi mo bahan kene bagimo Dok si Barbaren. Ue silih dok si Raja Bunga bunga. Asa i bahan mo gerar anak baru tubuh idi. Sada mo mer gerar si Tanggal sada nai Mergerar si Bubu. Kessa i bagahken si Raja Bunga bunga gerar anakna tubuh idi asa samah molih mo sinterem mersitongkir bekasna. Kessa bagidi asa i bahan si Raja Bunga bunga peranggunen anakna idi dua i anggunken si berru Doriangin mo anakna i angunken si berru Renciten mo anakna nai medem mo ia meraduna. Kessa samah i anggunken anakna idi mahar mo ari. Ndekah mi ndekahna i sada wari terang kessa wari keke mo ia meraduna si berru Doriangin menter laus mi lae. Tading mo i rumah si berru Renciten.
   I tengen si berru Renciten mo anakna mi anggunen enggo mate, i tengen mo anak si Doriangin ngelluh nai nturah mo ukurna lako menggancihken ( i sambari). Janah menter mo i sambarken si Berru Renciten anakna si enggo mate idi mo i anggunen si berru Doriangain i buat mo anak si enggeluh i pesusu si berru Renciten. Roh mo si berru Doriangain i lae nai i tengngen mo anakna asa i pesusu katena nggo i dapet mate, meneter mo ia tangis menderpa derpa oda kade lot si mbernit ni anakku en kalake nggo mate kudapet aku molih i lae idi nari. Otang en anakku si enggeluh idi ngo anakku i sambarken kono ngo ndai sendah idi aku mi lae idi asa kudok anakku katemu si mate en, na ale beru dukakmu mate en niang dukakku idi asa kupesusu bagimo dok si berru Doriangin. Asa mongkam mo si berru Renciten. Otang anakku si mate idi ale bae dike tandana anakmu dike tandana anakku asa i dokken kono anakku si mate idi bagimo do berru Si Renciten mengalo kata berru Doriangin idi menter i pecibal si berru Doriangin i ruang tengah bagas si mate idi. Kerna malot merkedungen barang dukak ise si mate idi asa menter mersialeng kula-kula daberru meraduna. Nai samah roh mo si Singkam deket si Barbaren, kessa soh asa i kuso si Singkam mo kinimate ni beberrena idi. I bagahken si berru Doriangin mo kessa mahar ari ale tuang (Turang) kutadingken mo i rumah en lako mi lae mongkar ngo kubege, roh kessa aku i lae nari enggo ku dapet mate i anggunen idi  sada si Berru Rnciten ngo kessa i bages simbelgah bagimo kata si Doriangin bai turangna idi. Muda bagidi ngo kata mdene ale otang pinupus ni si Barbaren ngo si mate idi i sambari si Berru Renciten ngo tuhu pinupisku idi. Pengido kene beberengku idi bagidimo kata ni si Singkam. Asa mongkam mo si Barbaren, ndigan kin pe ale bae kecemalen mo bagidi katemu bakin mate idi beberremu idi menter i teddo kono pinupusku idi i telahi deba mo kita asa jadi bagimo kata si Barbaren. Kumerna oda merkedungen terpaksa mo i pesoh mi sintua ladang, asa menter mo mersibere perjukutna bai sintua ladang, asa i tellahi mo malot terpatensa, nai menter mo mer sidudur cincinna si Singkam deket Si Barbaren asa i Per-pengului sintua ladang, bagipe malot pate asa i bakin pengulu id mo seksi Graha Si Singkam deket Si Barbaren idi asa mongkam mo Raja Bunga bunga. Aku ale sibahan kata kata malot aku ngeut mergeraha meraloken kula kula ku idi apai mo ku tumpak apai mo ku argan maku kom kom si enggeluh en mo ku petahan tahan kerna dukak si kutubuhken asa mergeraha kula kulangku idi ale si bahan kata asa mernidah-nidah mo aku idi si menang sidas pinupus si talu otang sidasa pinupus bagimo kata raja Bunga bunga.
   Ue ale silih sikedeken mo kono kubakin kami si bahan kata en kula kula mu idi kesa pe -alo alo (meralo) bagidi mo dok pengulu idi asa postepi si bahan kata idi mo Graha si Singkam dekket si Barbaren asa mersitengamen mo ia menter mo mersibedilen genep ari mersidarak-darak mo ia kacimbang belahna asa mur-mur mo i beritaken Raja keruaren nari deket anak bayo merpenghulu i graha idi. Asa i tongkir mo lebeken si Singkam. Kami ale silih asa roh pe kami mi kuta ndene en menongkirken Graha ndene en ngo kami asa kusiahi kami perkatan ndene deket Si Barbaren. Bagimo kata penghulu idi. Asa mongkam mo si Singkam. Muda menongkir  Graha nami en ngo kene nimu ale silih jadi midi bagimo kata si Singkam. Asa idokken mo naposona mertasak panganen. 
Kessa ntasak panganen asa i taruhi naposona mo mi bale panganen idi asa i hantari mo. Kessa i hantari asa mangan mo pengulu idi. Kessa salpun mangan asa marapuruni nai i sahutken mo panganen idi dekket i sahutken mo barangpe peterangken permulaen Grah deket si Barbaren. 
   Kessa i bettoh si bahan kata idi asa mer medemen mo ia. Mahar ari si berembenkenna asa ibuat si Singkam mo sada jukut i pertasak. Ntasak kessa nakan deket jukut idi asa iberemo mangan si bahan kata idi. Mongkam mo si bahan kata idi. sukutenmu enggo ibagahken ko ale silih permungkahen perguluten ndene deket Si Barbaren, ker Si Tanggal deket Si Bubu todes tempana, sada mate sada ngelluh mer sitedo tedon kene pinupus ndene idi. Ku pedempak mo kene asa murah ukumenku. Bagimo dok penghulu idi. Ue ale silih dok si Singkam mengaloi. 
   Nai laus mo sibahan kata idi mikuta si Barbaren. Kessa soh ia mongkam mo sibahan kata idi. Asa roh pe aku ale silih menongkir graha ndene en ngo kami asa kuukumi kami bagimo nina si bahan kata idi. 
   Asa mongkam mo si Barbaren. Muda menongkir graha nami en mo kene asa roh nimu ale silih. Jadi bilang ni panganen ngo malot dapet aku malot jumpaku mersampang mo atengku asa cibal alat nami en. Na cincinku en asa telahimo kami mende mende agidimo kata si Barbaren.
   Ue dok si bahan kata idi asa i dokken si Barbaren mo si melgang panganen. Enggo kessa ntasak panganen asa i taruhi mo mi bale i cibali asa mangan mo si bahan kata idi. Kessa salpun mangan asa marapuren janah i sahutken mo magahken pemungkahen graha idi. Nai mongkam mo pengulu idi. Enggo mo kubege kata ndene meraduna kupe dempak mo kene i kuta si Raja Bunga bunga asa murah kukap dabuhenken ukum, malot ne pejae jae kene bagimo dok si bahan kata idi. Ue ale silih ngeut ngo aku pedempak ulang so penter ukum i bakin kono si bahan kata bagimo dok Si Barbaren. Ue silih penter ngo ukumku. Malot aku ngeut merukum merbalik-balik, penentengen ngo ukumku bagimo dok sibahan kata idi. Asa ialengngi naposo sibahan kata idi mo Si Singakam. Lako mo ia karinan mi kuta si Raja Bunga bunga. Nggo kessa merpulung karina asa mendok rana mo pengulu idi. Enggo kessa mo pulung i senda deket si dasa dukak bagimo deket sidasa pinupus meraduna mer sisukutken sinabulna mo kene asa kubege kami dok si bahan kata idi. Nai mongkam mo si Raja Bunga bunga.
   Aku silih si kepaten, si danggelku ngo ku persidanggelken meraduna ngo kelleng atengku midah anankku tapi muda enggo nangis ate ni begu nggeluh anakku idi asa sidanggelenku ku persidanggelken. Kalak silih ngo kessa mergulut aku kom kom ngo bagimo dok si Raja Bunga bunga mendokken bai si bahan kata idi. 
   Mengerana nola mo si Singkam. Akupe ale si bahan kata asa ku alo pe si Barbaren bakin i sambari si berru ketansa ngo pinupusku bagimo dok si Singkam.
   Mendok rana nola mo si Barbaren asa ku alo pe silih si Singkam bakin i teddo pinupusku bakin mate pinupusna bai turangna si ketansa nari idi mo karinana asa mer graha kami bagidimo dok Si Barbaren. Nai mengerana mo sibahan kata idi. Enggo mo kubegeken sukuten ndene meraduna merpikir mo lebe aku si dari en bagimo nina si bahan kata idi. Asa ibakin pengulu idi makinken anak-anak i bagesen dingerrang(ganderang) merboni boni mo pengulu idi makinken anak-anak idi asa i tutupi mo dinderang idi. Nai mongkam mo si bahan kata idi bai si berru Doriangin dekket bai berru Renciten. En ale tuang (turang) embah kene mi babo delleng adena, kessa kene soh mi babo delleng adena jagati kene mo nahan dinggerang en lako mo kene sada klak lebbeken kesaa rohpe si sada kalak idi asa laus ma si sada kalak nai bagidi mo kata pengulu i nai laus mo berru Doriangain. I jujungmo inang dinggerang idi i embah gaul gaul dua asa soh mo ia mi penangkengen nai mongkam mo si berru Doriangin. Ia ale begu kugongken ledjja bagen tah malot ngo i bereken deba ankku idi bangku molih bagidi mo dok si Berru Doriangin.
   I tebahi si bahan kata idi mo si berru Renciten asa ulang mentadi sampe soh mi babo deleng adena. Kessa soh kene nahan palu kene nola nahan dinderrang en, alaten ndene nggo soh bagimo dok pengulu idi. Ue dok si berru Renciten lako mo ia. Kessa soh ia mi penagkenngen mongkam mo ia. Ale begu kugongken pe lejja bagen tah molih ngo nahan anak ni deba bai inagna lejja sambing aku pesusuken deket menangkeng deleng en tah i enget sidasa dukak ngo dukakna i perpatoh bagimo kata si berru Renciten tikanna ia menagkeng idi. Nai kessa soh ia mi babo deleng idi ass i jangatina mo dinggerang idi asa molih ia mirumah. Nggo kessa soh ia mi rumah asa i pecibal mo dinggerang idi asa i. Osari si bahan kata idi mo terik(tali) dingerrang Idi nai i peruar mo anak-anak idi i bagasen dinggerang idi nari dekket i kusoi mo.
   Enggo mo kono i jujung daberu si dua en bagahken mo kata si perpodi merjujung kono barang katerakin katana. Ulang alang alangen magahken bangku bagidi mo kata si bahan kata idi. Asa i bagahken anak-anak idi mo kunukin kata si perpodi merjujung aku idi ale raja nami. Kelsohen ia kubege. Ia le begu kugongken lejja bagen Tah molih ngo anak ni deba lejja sambing aku mengeluhi, lejjana sambing aku mer jujung dinggerang en menagken deleng en bagi kata kubege ale raja nami. 
   Nai kata si perlebe si me Merjujung aku idi ale raja nami kessa soh ia mi penagkengen idi. Kekelsohen ia ku bege. Ia le begu kugongken mo lejja bagen tah malot molih ngo anakku idi i bahan si bahan kata idi mo si perlebe merjujung aku idi ale raja nami bagimo kata anak-anak idi magahken kata daberru si duak kalak idi. 
   Nai mongkam mo si bahan kata idi . Nggo kubettoh dabuhenku ukum nggo magahken bana si so mada si dasa dukakkin en mo anak si ni bagesen dinggerang eb mendengkoh katana. Molih mo bai si berru Doriangin anakna si Tanggal anak si berru Renciten mo si mate idi. Teraku aku ngo si beru Renciten anakna ngo keppe si mate idi i gancihken ananakna mate idi mi anggunen anak ni kaltuna bakin todes idi ngo tempana anakna idi asa i sambari ananakna idi enteng i bettoh berru si Doriangin ngo keppeken ngo sanga mergulut kula kukana idi.
   En pe ale Singkam beberemu ngo singgeluh idi bebere si Barbaren ngo si mate idi ulang ne mo kene merubati ulang nenge mo kene mer graha. Nggo molih anak perubaten ndene idi, anak persiroen ndene idi bai si dasa dukakkin. Pate mo patemo perkataen ndene en samah molih mo kita karina bagimo kata pengulu idi. Ue dok si Barbaren dket si Singkam. Bagimo kunukin kepaten ni sukut sukuten si Singkam dekket si Barbaren ale kaltu sini sukutken siperlebe tah lot kurang sada kurang dua malot kubettoh sini bagahken na i deba bangku. Bagidi mo sohna.

Njahjuah

Cerita Rakyat Masyarakat Pakpak ENGGANG DEKET ETEK

ENGGANG DEKET ETEK

   Asa lot mo arnia sukut-sukuten terenget Enggang dekkat Etek. Enggang en mergerar Enggang suberang laut songket ni mende mo kunukin tempa ni Enggang idi. Masa mo kunukin ari leggo kahar,muas mo kunukin Enggang en itulus Enggang en mo kunukin lae Nturge mahan enumenna malot ia kenan asa itulus momi baruren enggo karina mpera kersik bakin malot i jariri lae asa mer pikir mo kunukin Enggang idi. akum lae Nturge kutulus dekket lae kedek malot nenge aku kinan ibakin enggo narih ndekah kahar idi nggo karina marsak lae kedek-kedek. i sadenakin lae mbelgah idi mo kutongkir. akum idi malot sendah marsak idi bagidimo pemikiren Enggang idi asa lakomo kunukin Enggang idi menongkir lae mbelgah kin. idi pe idapet enggo marsak asa iekut-ekut mo kunukin baruren lae idi dapet Enggang idi mo lae lot sada saruam i lubuk lubuk asa ienum mo katena lae idi.menter mongkam Etek serpu i lae idi nari. ale Enggang ulang ncio kukap bagimo kata Etek serpu idi. asa mengaloi mo Enggang idi. Biarna kono ku idah ale Etek. Konomo lebeken kupangan asa ku enum lae en bagimo idokken Enggang idi. nai mongkam nola mo Etek idi. Kade mo dosangku ale Enggang asa i panngan kono aku nimu bagidimo idokken Etek idi. asa mongkam mo Enggang idi. olong-olong pe enggo mbue kupangan buah kayu pe enggo mo mbue kupangan ale Etek mada ngo i bakin lot dosana asa kupangan titikna kin muda lot nidah panganen ni pangan. enpe ale Etek biarna kono enggo kuidah kupangan mo kono asa dua kali pokokna kuakap janah malum muasku menum lae janah palum cubellekku bagidimo idokken Enggang idi.

   Asa merpikir mo kunukin Etek idi.Nggo mo kuidah gondem i julu mbelgah mo nahan lae en memaroh lae mbelggah idi kubakin lebeken kelilin Enggang en asa leleten ia ulang i pangan aku ukum enggo roh nahan lae mbelggah idi menter nahan aku langi arap laus arap dike aku jumpasa bagidi mo kunukin i pikiren Etek idi. Asa mongkam mo Etek idi. Muda malot terdokken nimu ale Enggang sekali i pangan kono aku kudembban kono lebeken giam lot engetenmu sorangku mendemban kono idi bagimo kata ni Etek idi. Asa mengaloi mo Enggang idi. Akum sora mendemban aku idi ale Etek jadi ngo bahan asa ku dengkohken soramu idi tah mende ma i dengkoh penggelku bahan mo ndor endemu aku idi bagi mo kata Enggang idi. Asa i bahan Etek idi mo katena kunukin mengendei Enggang idi.

   Enggang kok, Enggang kok, dagingmu Enggang kok bage nakan kineppel ( kupul) Enggang kok,  Takalmu Enggang kok bage buah neur i pulo nari Enggang kok, Paruhmu Enggang kok bage buluh si Taraya Enggang kok, kerahongmu Enggang kok bage pulo mergantung Enggang kok, kabengmu  Enggang kok bage kipas raya Enggang kok, Pinukurenmu Enggang kok bage perbuah Tekkis Enggang kok, Pagutmu Enggang kok bage pejabat kelling Enggang kok, Buk bukmu Enggang kok  bage Pati pati Raya Enggang kok, Bilalangmu Enggang kok Bage batu persegi Enggang kok, Pusuh pusuhmu Enggang ko bage jantung galuh si Tabar Enggang kok, Ate ate mu Enggang kok bage batu mercundut Enggang kok, Bitukamu Enggang kok bage batu tugunna i lae Enggang kok, Tenten mu Enggang kok bage pelangkah Gading Enggang kok, Gurnang-gurnang mu Enggang kok bage Ragin rembaru Enggang kok, Ekurmu Enggang kok bage kipas ni raja Enggang kok, Pahamu Enggang kok bage tebu tonggal Enggang kok, Buku teunmu enggang kok bage buku Sanggar menguda Enggang kok, Nehemu Enggang kok bage Gaer gaer Enggang kok, jari jarimu Enggang kok bage bunga si lima lima Enggang kok, Seselumu Enggang kok bage lundu Tenggar Enggang kok, Matamu Enggang kok bage saga tonggal Enggang kok, Babahmu Enggang kok bage babah batu merdauk Enggang kok, Soramu Enggang kok bage perkas mencalit Enggang kok bagidimo kunukin kata ni Etek idi mengendei Enggang idi.

   Kessa bagidi asa mongkam mo Enggang idi nggo mo aku i endei kono ale Etek pande ma ngo kono kepeken menggeari sendihi idi kupangan mo kono bagidimo kata Enggang idi

   Asa mongkam nola mo Etek idi mike nola lausku ale Enggang nahan aku asa pangan, ku endei kono situk nari asa pangan aku bagidi mo i dokken Etek idi. Muda i endei kono deng ngo nimu aku ale Etek asa kupangan kono bahanmo asa ndor kono kupangan bagidi mo idokken Enggang idi. Asa iolihi Etek idi mo i endei Enggang idi. ketika Etek mengendei Enggang idi kunukin menter roh lae mbelen menter langi Etek laus mi liang.  mbiar Enggang manun ibakin lae mbelgah idi menter ngkabang mi darat. Kessa soh Enggang mi darat asa menter mo ia Mengolcipi , ia ale enggo mo aku dapet Jerla Etek idi mema roh ngo kepeken lae mbelgah asa ndorok meluah ia katena asa i endei aku ndai. Kessa roh lae mbelgah idi menter ngo ia laus Tertenggek tenggek ngo aku en. ia leh dok Enggang idi. Kessa bagidi kunukin I dokken Enggang idi menter mo ngkabang Enggang tertuktuk takal Enggang idi i dahan kayu menter kumeciong ndabuh menter mate Enggang idi. Bagidi mo pate sukut sukuten Enggang deket Etek.


*Sengkut mengabir duru ncuak dahan kempaba,
  senteng mo kata ni sukuten menumpak tuhan debata
*Mbages urat ni jering mabbo urat parira,
  Mbages mo enggo berngin meddem mo kita karina

Jumat, 04 September 2015

Sejarah Suku Pakpak & Adat istiadat

Nintura berasal dari kata manusia raksasa (NTUARA),Similang ilang berasal dari india..
Sini haji, ,berasal dari bangsa arap memasuki wilayah pulau jawa yg di sebut dengan wali songo memasuki barus terus turun ke wilayah ulayat pakpak.

  Diceritakan dalam sejarah, bahwa asal-usul Suku Pakpak adalah dari India Selatan yaitu dari India Tondal yang kemudian menetap di Muara Tapus dekat Kota Barus lalu berkembang di tanah Pakpak dan kemudian menjadi suku Pakpak. Pada dasarnya nenek moyang suku Pakpak ini sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal mereka, namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dari marga aslinya.
Suku Pakpak tersebar di beberapa daerah. Secara administratif masyarakat Pakpak tersebar di dua Provinsi dan beberapa Kabupaten, yang dikenal dengan sebutan Suak atau Lebbuh. Wilayah Pakpak terbagi menjadi 5 suak yaitu : Suak Simsim, Suak Kelasen, Suak Keppas, Suak Pegagan dan Suak Boang. Suak Simsim terletak di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Suak Keppas dan Suak Pegagan terletak di wilayah Kabupaten Dairi, Suak Kelasen menetap di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah khususnya Kecamatan Barus, dan Suak Boang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tidak semua orang Pakpak orang Pakpak berdiam di tanah Pakpak, namun mereka juga berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian tinggal di tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak. Mereka menjadi "Situkak Rube", Sipungkah Kuta, dan Sukut Nitalun di tanah Pakpak. Sebagian lagi pergi merantau ke daerah lain, membentuk komunitas baru. Mereka mengetahui bahwa asalnya adalah dari daerah Pakpak dan mengaku bahwa Pakpak adalah sukunya, namun sudah menjadi marga di suku lain.
Menurut cerita, nenek moyang dari Suku Pakpak adalah si Kada dan si Lona dari India Selatan. Mereka pergi merantau meninggalkan kampungnya dan terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke tanah Pakpak. Dari pernikahan mereka mempunyai seorang anak yang bernama HYANG. Itulah sebabnya nama Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Suku Pakpak. Hyang pun dewasa dan kemudian menikah dengan putri Raja Barus. Dari pernikahan mereka, lahir 7 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Adapun nama dari anak Hyang dan putri raja Barus adalah :
1. Si Haji;
2. Perbaju Bigo;
3. Ranggar Jodi;
4. Mpu Bada;
5. Raja Pako;
6. Bata;
7. Sanggir;
8. Suari (anak perempuan).
Pada urutan ke empat terdapat nama Mpu Bada, Mpu Bada adalah yang terbesar di antara saudara-saudaranya yang lain, bahkan dari pihak suku Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah keturunan dari Parna dari Marga Sigalingging. Bagaimana bisa ya...??? Sedangkah pada sejarahnya sudah jelas-jelas bahwa Mpu Bada adalah anak keempat dari Hyang.
Si anak Sulung, yaitu Si Haji mempunyai kerajaan di Banua Harhar, yang saat ini dikenal dengan Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube Kabupaten Pakpak Bharat Turunanya Padang,Berutu,Solin. Perbaju Bigo pergi ke arah timur dan membentuk kerajaan SIMBELLO di Silaan, yang saat ini dikenal dengan Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu. Ranggar Jodi pergi ke arah utara dan membentuk kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama kerajaan JODI BUAH LEUH dan NANTAMPUK MAS, saat ini masuk ke dalam Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe. Mpu Bada pergi ke arah barat melintasi Lae Cinendang dan tinggal di Mpung Simbentar Baju turunanya Manik,Beringin,Tendang,Banurea,Gajah,Berasa. Raja Pako pergi ke arah timur laut membentuk Kerajaan Siraja Pako dan bermukim di Sicike-cike turunannya si pitu marga Ujung,Angkat,Bintang,Capah,Sinamo,Kudadiri,Gajah manik. Bata pergi ke arah Selatan dan menikah, kemudian hanya mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Putra keturunan Tuan Nahkoda Raja. Dari pernikahan ini menurunkan marga Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Turuten, Pinayungen dan Anakampun. Sanggir pergi ke arah Selatan tapi lebih jauh dari Bata dan membentuk kerajaan di sana. dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka dan Mungkur. Sedangkah yang perempuan yaitu Suari menikah dengan Putra Raja Barus dan mempunyai anak, yaitu : Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boangmanalu dan Bancin.

PERSEBARAN ORANG PAKPAK

  Wilayah suku Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yaitu : (Berutu dan Nurani, 2007:3-4)
Pakpak Simsim, yaitu orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Terdiri dari marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boangmanalu, Cibro, Sitakar dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
Pakpak Keppas, yaitu orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha dan lain-lain. Ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Dairi.
Pakpak Pegagan, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan, antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Sikettang dan lain-lain, termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir Kabupaten Dairi.
Pakpak Kelasen, yaitu orang Pakpak yang berasal dari dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anakampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (Kabupaten Tapanuli Tengah).
Pakpak Boang, yaitu orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang, antara lain marga Saraan, Sambo, Penarik dan lain-lain. Termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Meskipun para Antropolog memasukkan suku Pakpak ke dalam salah satu Subetnis Batak, sebagaimana suku Mandailing, Karo, Toba, dan Simalungun. Namun, suku Pakpak mempunyai versi tersendiri tentang asal-usul dan jati dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16) :
Keberadaan orang-orang Simbello, Simbacang,Siratak dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak;
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru,Simorgarorgar,Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang dan Purbaji.

Dalam Lapihen/Laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
Persebaran orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga yang ada di Suku Pakpak yang mengandung ke India-an seperti marga Lingga, Maha dan Maharaja, boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut.

ADAT PAKPAK

Adat pakpak sifat nya dua macam (1):Ngkerja bagak(2
)Ngkerja njahat
1:Ngkerja Bagak :kerja /pesta perkawinan dan adat nya terbagi 7 macam
yaitu:
*Merkata sipitu
*Merbayo
*Sohom-sohom
*Menoh kela
*Memelat soki
*Menada bunga rambu rambu
*Maing pertabar(pesakat mabruna kalon
2:Ngkerja Njahat:yg di sebut adad tentang akhir kematian adad nya ada 3 macam yaitu: 
*Males bulung simbernaik
*Males bulung sampula
*Males bulung ni buluh
dengan tingkat kemampuan dan usia yg meningggal dunia yg di namakan bahasa ada yaitu
1.Tingkat membayar lemba berati yg meninggal sudah scayur ntua
2.Bura bura cipako berati yg meninggal sudah berumah tangga
3.Bura bura koning berati yg meninggal di bawah umur org dewasa.

MENGENAI PELAKSANAN ADAT

Kata kunci dalam bahasa pakpak
*Mengido sodip mendahi puang
*Mengido gegoh mendahi berru
*Mengido pengurupi mendahi dedahen dengan se beltek
*Memerre serbeb mendahi pertua/orang tua

ADAT PERKAWINAN/MAHAN UTANG

  Memereken simpihir pihir berupa, mas,perak,kepeng secukupnya tapi oles nya harus lima
-Oles inang berru -oles culkkai -oles penatum -oles lemlem nakan-oles peraleng.
inilah merupakan kewajipan dari pihak laki laki yg harus di berikan ke pihak perempuan/si per brru/puang.
setelah pihak perempuan menerima kewajiban dari pihak laki laki maka pihak perempuan wajip pula memberikan yaitu:
-Nakan penjalon -penjukuti mersendihi - belagen 3 - kembal 12 - selampis baka 24
nama/glar, belagen peramak, belagen dabuhen/tabir,dinding ulu/tutup takal.
ramuan pelengkap nya yg mempunyai makna tersendiri di tambah dengan .nditak, dohomen pinahpah,lemang/ tinembu,galuh tasak, tebbu merlepak dengan beras simperbean.

ADAT NJHAHAT(KEPATEN)

  Yang wajib dihadapi puang yaitu:
puang bona,puang pengamaki,puang lebbe,
puang bial disebut sampe ke pembayaran lemba.
berikut nya di berikan oles 3 lembar nama nya oles sintaken,oles tatakenken,oles baubau, di tambah simpihir pihir/mas.kepeng manoh manoh/kenagen yg sipat nya misal nya kebun, sawah atau seluas tanah dan pokok tanaman durian petai,kelapa ,dll.
sipuang rasa berkewajipan memberi pihak berru yaitu:
memereken nakan pengambat,memereken nakan persirangen,memereken nakan ariari tendi ket ieket jari kikambal kambirang pake bengkuang/bahan untuk baka.
yg bermakna supaya mpihir mo tendi ket mambal sindanggel, dan di berikan beras pengkicik simpihir tendi nakan tsb tidak terlepas dari merangkap kambing,ayam.

MENGENAI BUDAYA PAKPAK

  Budaya pakpak terbagi 3 macam yaitu
(A)Budaya marga (B) Budaya lebbuh (C) Budaya jabu
A)*Budaya marga disebut pelaksanaan nya mendangger uruk yg harus menghadirkan perisang isang,pertulan tengah,damper ekur ekur,puang,bru,sicibal baleng.
di promotori oleh sipantes ndiase,si gedang radumen deket si baso.
hal tersebut dinamakan pesta budaya sulang silima (marga tertentu)
B)*Budaya lebbuh serupa diatas tapi sifat nya satu lebuh yg di sebut sada kuta
C)*budaya jabu/perjabujabu serupadiatas sifat nya perorangan atau keluarga.
SECARA UMUM A.B.C. masing masing budaya seni yg sama.
Odong -dong,nagen atau nyanyian.tangis milangi dan mempunyai oning oningen misal nya
genderang,gung,klondang,sordam,kecapi,lobat,taratoa,sagasaga,genggong,kettuk.

ADAT STUKTUR SOSIAL PAKPAK( FALSAFAH)

Adat dan struktur sosial kekerabatan Suku Pakpak yang disebut Sulang Silima, terdiri dari lima unsur yaitu
Perisang-isang (Sinina pertama: anak sulung, kerabat semarga keturunan atau generasi tertua)
Pertulan-tengah (Sinina kedua: anak tengah, kerabat semarga keturunan atau generasi yang ditengah)
Perekur-ekur (Sinina bungsu: anak bungsu, kerabat semarga keturunan terbungsu)
Perpunca Ndiadep / Puang Kula-kula,pengituai,pemerintah(kerabat pemberi gadis)
Perbetekken / Berru,Sukut nitulan (kerabat penerima gadis)

MAKANAN DALAM KHAS BUDAYA PAKPAK

Peleng,Ginaruncor,Nditak,Tinembu,Lemang,Pianahpah ,Ginustung, Nakan pagit /Nakan simalum malum, nakan 
serbeb,nakan luah,nakan pengambat.nakan ari-ari tendi,memere ndirabaren.

MEJAN SUKU PAKPAK

  Mejan merupakan peninggalan purbakala yang ditemukan di Tanah Pakpak berupa patung-patung yang diukir dari batu. Patung-patung ini berbentuk orang mengendarai binatang seperti: gajah, kuda, atau harimau. Mejan adalah suatu simbol kebanggaan dan kemashyuran bagi masyarakat Pakpak, karena diyakini bahwa patung-patung tersebut mengandung unsur mistik tersendiri. Selain mengandung nilai budaya yang tinggi, mejan ini juga merupakan lambang kebesaran marga Pakpak atau masyarakat Pakpak.

Secara khusus masyarakat Pakpak memaknai mejan sebagai simbol kepahlawanan. Pemahat yang membuat mejan ini adalah para pertaki dan mereka inilah pemilik mejan sekaligus pande tukang. Pembuatan mejan ini dahulu memakan waktu yang cukup lama disertai dengan mantra-mantra untuk mengisinya dengan roh yang biasa disebut masyarakat Pakpak dengan nangguru yang mengisi batu mejan. Itulah sebabnya mejan diyakini memiliki kekuatan gaib dan para pertaki inilah yang memiliki kualifikasi membuatnya.  
    
Warga yang memiliki mejan dahulu kala merupakan orang berada, karena dalam pembuatannya membutuhkan biaya yang lumayan besar dan memakan waktu lama juga. Selain itu, untuk pembuatan mejan ini tidak sembarangan, karena dalam pembuatannya harus mengikuti banyak ritual sebagai syarat-syarat yang harus dipenuhi agar mejan tersebut nantinya memiliki kekuatan mistik. Setelah rampung patung ini ditempatkan di  gerbang kampung sebagai  penangkal bala sekaligus penanda kekuasaan marga selaku pemangku kuta, yaitu pendiri kampung.

Pada zaman dulu, mejan berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang akan masuk ke suatu daerah atau kampung. Konon, mejan dapat bersuara pada zaman dulu bila musuh datang memasuki kampung atau bila suatu kampung akan mengalami suatu kejadian. Suara ini diyakini berasal dari nangguru yang berdiam di dalam batu mejan tersebut. Nangguru yang tinggal di batu Mejan  dipercaya adalah roh nenek moyang yang dipanggil melalui suatu ritual. Di situlah letak sifat mistik daripada mejan yang telah disinggung sebelumnya (berbagai sumber).

1.Pengaruh  Tamil dalam Masyarakat Pakpak

  Patung Mejan yang masih ada ditemukan sekarang ini diperkirakan berumur 400–900 tahun. Menurut hasil penelitian para arkeolog yang pernah melakukan riset di daerah Pakpak Bharat, keberadaan mejan tidak terlepas dari pengaruh Hindu yang juga identik dengan budaya patungnya. Bentuk patung seperti gajah dan angsa adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari India. Bentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu pertulenan (penyimpanan abu jenazah) sebenarnya tidak lain adalah hasil interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai simbol kendaraan arwah (Soedewo, 2008:1-10).

        
Masuknya unsur-unsur budaya Hindu - Tamil ke dalam budaya Pakpak dimungkinkan oleh adanya kontak kedua budaya tersebut. Tempat yang paling memungkinkan terjadinya kontak itu di masa lalu adalah Barus, yang bukti-bukti sejarah maupun arkeologisnya menunjukkan tempat ini pernah berjaya sebagai bandar internasional. Para pedagang Tamil dari India mendatangi Barus untuk membeli kapur barus yang dihasilkan di daerah Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tempat tinggal orang-orang Pakpak (Basarsyah, 2009:1-3; Soedewo, 2008:1-10).

Bukti kehadiran orang-orang Tamil dari India adalah Prasasti Lobu Tua, yang ditemukan di Barus. Prasasti berangka tahun 1010 Saka (1088 M) ini dikeluarkan oleh suatu serikat dagang yang bernama Ayyāvole 500 (Perkumpulan 500) (Sastri,1932:326 dan Subbarayalu,2002:24). Prasasti dengan tulisan Tamil ini ditemukan oleh pejabat Belanda GJJ Deutz tahun 1872. Setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931, menurutnya perkumpulan dagang etnik Tamil tersebut memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan dan ketentuan lainnya. Anggotanya terdiri dari berbagai aliran Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Berdasarkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret bersama tim dari Ecole Francaise d Extreme-Orient (EFEO) membuktikan bahwa pada abad ke-8 sampai ke-12 di Lobu Tua, Barus telah terdapat perkampungan multi-etnik terdiri dari etnik Tamil, Cina, Arab dan sebagainya (Kumar, 2011:1).

Barus, yang merupakan bandar niaga internasional di masa lalu tidak jauh dari Kelasan, yang berada di pegunungan Bukit Barisan dan dulu menjadi persinggahan para pedagang yang datang dari Kailasem di pegunungan Himalaya, India. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa penduduk Kelasan yang sekarang dikenal sebagai salah satu suak di Tanah Pakpak adalah keturunan dari hasil percampuran mereka. Orang-orang Tamil ini juga masuk terutama ke daerah Simsim dan Boang. Inilah yang menyebabkan adanya anggapan  bahwa orang Pakpak berasal dari India. Apalagi di lapihen laklak Pakpak (buku laklak dari kulit kayu) ada tertulis "Enmo tambo si Sewu si roh Indiha nari arap-arapen kayu mbellen soh mi Barus" (inilah tambo si Sewu yang datang dari India dengan memakai rakit kayu besar sampai ke Barus).

2.Keberadaan Mejan Kini

  Mejan tetap masih ada ditemukan di wilayah Tanah Pakpak meskipun sudah lumayan banyak juga yang hilang dicuri orang. Setidaknya di daerah seperti Tungtung Batu,  Berampu, Bangun, Tinada, Kerajaan, Kuta Nangka, Kuta Deleng, Kuta Kersik, Penanggalan, Lebuh Simangun, Lebuh Nusa, Ronding, Sibande, dan Kaban Tengah patung ini masih ada sampai sekarang.Di luar Dairi dan Pakpak Bharat ada juga  di daerah Parlilitan, Humbang Hasundutan (berbagai sumber).

Menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pakpak Bharat bahwa mejan tersebut ada di daerah sebagai berikut: Mejan Berutu Kuta Ujung dan Mejan Kesogihen di Pardomuan. Mejan Berutu Ulu Merah  dan Mejan Berutu Tandak  di Ulu Merah,  Mejan Berutu Kuta Kersik dan Mejan Marga Sinamo di Silimakuta, Mejan Bancin Penanggalan Jehe  di Boang, Mejan Boangmanalu  di Boangmanalu, Mejan Manik Arituntun dan Mejan Manik Aornakan Tao di Aornakan, Mejan Manik Lagan dan Mejan Manik Gaman serta Mejan Gajah  di Simerpara, Mejan Manik Kecupak di Kecupak I, Mejan Sanggar dan Mejan Pandua di Pangindar, Mejan Marga Sinamo Siantar Julu di Perongil, Mejan Padang di Jambu,Mejan Padang Kuta Babo di Kuta Babo, Mejan Solin Lae Meang di Mahala, Mejan Solin Tamba di Majanggut II, Mejan Solin Kuta Delleng dan Mejan Tinendung di Sukarame.
             
Mejan, sebagaimana telah dikemukakan di atas, adalah kekayaan budaya Pakpak, sehingga perlu dijaga dan dipelihara dari usaha-usaha pencurian dan perusakan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menjaga dan memelihara mejan-mejan yang masih tersisa. ***


Njuahjuah